Thursday, 7 November 2019

Bercengkerama dengan Keluarga Jenderal Ahmad Yani

1

Suatu malam di penghujung September sebuah pesan singkat menghampiri gawai saya yang sudah mengajukan pensiun dini karena terlalu lelah mengabdikan diri, " Na, besok kamu jadi datang ke Sasmita Loka?" . Pesan tersebut tak serta merta saya balas, karena saya masih terpukau betapa tidak bahwa secara mendadak saya ditanya langsung oleh salah satu mantan penghuni Sasmita Loka tersebut.

Sesuai dengan petikan judul dalam tulisan ini pastilah kaitannya dengan rumah dari Keluarga Jenderal Ahmad Yani. Rumah dinas dari Jenderal Ahmad Yani tersebut kini telah beralih fungsi menjadi Museum Sasmita Loka, museum tersebut diresmikan tepat satu tahun setelah terjadinya tragedi yang memupuskan sejenak banyak harap dan cita-cita yang bermekaran di hunian nan asri itu.

Setelah memastikan bahwa saya akan berkunjung ke museum, siang di akhir pekan terakhir Bulan September tersebut tibalah saya di Museum Sasmitaloka Jenderal Ahmad Yani . Saat berkunjung ke museum tersebut, saya yakin bahwa siapa pun yang pernah berkunjung ke sana pasti tidak akan merasakan sensasi berkunjung ke sebuah museum pada umumnya. Museum ini benar-benar seperti rumah hunian yang membuat kita nyaman berada di dalamnya.



Museum Sasmita Loka Jenderal Ahmad Yani

Di dalam museum, anak-anak dari Jenderal Ahmad Yani sedang berkumpul di meja makan di ruangan tengah. Ibu Rully, Ibu Juwik, Ibu Yuni, dan juga Pak Eddy.
"Hei Na, aduh kamu terlambat, tadi kami abis wawancara lho.", sapa Pak Eddy.

"Iya, kamu kenapa gak dateng dari tadi?", sambung Ibu Rully. Saya hanya menjawab sekenanya karena saya memang sengaja datang siang menjelang sore.

Mereka bercerita banyak tentang kegiatan mereka sedari pagi di museum tersebut hingga dengan ramah mereka menyambut para pengunjung museum yang seakan tak habis-habis. Rumah yang terletak di Jl. Lembang tersebut adalah merupakan rumah dinas Jenderal Ahmad Yani sebagai Perwira TNI-AD, sedangkan rumah di Jl. Taman Suropati yang kini menjadi Wisma A. Yani adalah merupakan rumah dinas Jenderal Ahmad Yani yang pada saat itu menjabat sebagai Menpangad.

Tak sulit bagi saya untuk langsung terbuai dalam kisah-kisah yang dipaparkan langsung oleh anak-anak Sang Jenderal, mulai dari kebiasaan Sang Jenderal hingga kelanjutan keberlangsungan hidup mereka sepeninggal ayahanda tercinta.

Pak Eddy, beliau adalah putra bungsu yang pada pagi itu membangunkan bapaknya untuk yang terakhir kali. Bayangan akan segala kepiluan yang terus menyeruak dalam benaknya seakan enggan menyusut dalam waktu singkat. Berganti dekade pun, beliau masih terasa enggan apabila harus mengenang apa yang membuatnya berpredikat yatim di usia belia.

Lirih terdengar, "Tolong jangan paksa saya bercerita,..." meluncur bisik dari bibirnya ketika saya tepat berada di sebelahnya saat tamu-tamu ramai berdatangan dan menanyakan kronologis kejadian tentang tragedi pagi yang penuh luka tersebut.

Setelah kejadian di pagi awal Oktober 1965, mereka semua berpindah-pindah. Bahkan urusan sekolah pun mereka sempat terhenti dan melanjutkan dengan sekolah di rumah selama kurang lebih satu tahun. Trauma dan ketakutan membungkus mereka dalam ketidaktahuan tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi kala itu. "Kita semua sekeluarga pindah-pindah, ke Kemang, di sana gak tau di mana, pokoknya di pedalaman, gelap, ndak ada listrik.", kenang Ibu Juwik.

"Ibu saya sempat jualan juga, jualan sembako, jualan gaplek, yang penting kita semua bisa makan, bisa hidup.", terang Ibu Rully "Pernah juga ibu kena tipu orang Korea, ibu bangkrut, sedih lagi. Lalu ibu cari usaha lain lagi, jahit-jahit baju.", lanjutnya.

"Wah, bapak dan Ibu doyan gaplek juga?",
"Doyan, apa saja kami makan. Apa pun yang ibu masak, yang ibu bikin, kita makan. Kata ibu, kita harus sehat, makan kenyang, gak boleh jajan, makan harus di rumah." lanjut Ibu Rully.

"Lalu setelah itu, akhirnya di mana Ibu dan keluarga menetap dan tinggal?",
"Ibu kan giat mengumpulkan uang, menabung dari hasil-hasil usaha, lalu I
bu kami membeli rumah itu yang ada di depan rumah ini (sambil menunjuk ke rumah yang berada tepat berhadapan dengan museum), jadi kita masih sering-sering main di halaman rumah ini, sampai sekarang ya rumah ini memang seperti rumah kami, padahal aslinya kami gak punya rumah wong ini rumah dinas, hahahaah." terang Ibu Rully sambil berseloroh.


Rumah yang pernah menjadi tempat tinggal Keluarga Jenderal Ahmad Yani
"Apa kebiasaan dari keluarga yang masih dilakukan sampai sekarang?",
"Kumpul-kumpul ini seperti sekarang, sebisa mungkin kami bersama, bareng-bareng, akur terus. Sambil makan makanan kesukaan bapak, bapak dulu suka berkebun, nanti hasil kebunnya direbus dimakan bareng-bareng sekeluarga, dibagi-bagi ke lainnya juga, jadi kalau kami kumpul di sini pasti ada makanan ini (sambil menunjuk ubi rebus, kacang rebus, serta singkong rebus yang ada di meja).", sambung Ibu Juwik.

"Waktu sekolah, apakah bapak atau ibu ada yang pernah sekelas atau satu sekolah dengan anak Pahlawan Revolusi lainnya?",
"Hhhmm, kalau saya enggak (ada), sih yaa.", tukas Bu Rully.
"Saya juga gak ada", lanjut Ibu Yuni.
"Ohh saya ada, saya dulu sekolah di Santa Ursula, saya satu tingkat dengan Ibu Yanti, anak Jenderal Nasution. Tapi kami ndak sekelas." terang Ibu Juwik.
"Setelah kejadian, kita dulu waktu sekolah punya pengawal satu-satu, karena takut kejadian yang tidak-tidak terjadi kepada kami. Satu penjaga saya menunggu di depan kelas saat saya sekolah, yaaa saya jadi gak bisa main kalau pulang sekolah.", cerita Pak Eddy.
"Iya pulang sekolah ya langsung pulang ke rumah, mainnya sama mbak-mbak sama adek-adek.", lanjut Ibu Yuni.

"Oh ya, kamu kan suka membaca, berarti banyak ya, buku kamu tentang almarhum bapak?", tanya Pak Eddy.
"Lumayan, Pak. Tapi agak sulit sekarang ini menemukan buku-buku tentang Jenderal Ahmad Yani."

"Oh iya, kita ada juga buku di kantor (museum), kamu sudah punya belum?", tanya Ibu Rully.
"Sepertinya belum, Bu.. hehe.."
"Sepertinya memang habis, nanti kita cetak lagi, deh.", lanjutnya.

Lalu salah satu dari mereka meminta kepada penjaga museum untuk mengecek ketersediaan buku,
Alhamdulillah buku yang dimaksud masih ada.

"Kalau kamu mau, nih buat kamu.", sambung Pak Eddy.

"Lho saya dapat gratis, nih. hehehe.."
"Iya, kita kan juga udah dapat buku kamu. hahaha."

Percakapan kami pun banyak diselingi senda gurau serta canda tawa yang meramaikan suasana di museum kala itu. Berada di tengah mereka seperti tidak ada batas antara kami. Seloroh-seloroh mereka pun sungguh kekinian. Jadi, tak usah khawatir apabila bertemu mereka saat berkunjung ke Museum Sasmita Loka Jenderal Ahmad Yani, karena mereka dengan senang hati akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sesekali diselingi dengan guyonan.

"Lain kali kamu ke Magelang, ke Purworejo. Ibu sama Bapak, kan asli sana. kamu harus tau ada apa saja di sana, jangan cuma tau mall aja di Jakarta.", canda Ibu Rully.

"Duuhh ayo dong kamu dari tadi ngomong terus, itu lho makanan sama minumannya dinikmati. Itu tadi juga dibawakan oleh tamu yang wawancara untuk youtube.", lanjut Ibu Rully sambil memasang wajah jenaka.

"Iya, besok gantian kamu yang bawa makanan ke sini yaa, hahahah", canda mereka bersamaan.


Lalu percakapan-percakapan ringan membawa kami menuju senja. Kami pun berpamitan serta tak lupa untuk mengabadikan momen-momen bersama mereka.

ki-ka: Ibu Rully, Ibu Yuni, Pak Eddy, Ibu Juwik



Dan kesempatan-kesempatan bertemu dengan para saksi-saksi sejarah akan terus saya kenang sebagai pengalaman menakjubkan dalam hidup saya. Banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik dari mereka, tentang perjuangan - tentang kemandirian - tentang kebersamaan - tentang makna kasih sayang - serta nilai-nilai sarat makna yang menjadikan hari-hari mereka seperti terus bergandengan tangan walau berada di tengah badai.


Semoga tulisan kali ini bermanfaat dan memberikan pengalaman baru pula bagi yang membacanya.
Terima kasih.
Salam hangat :)



Monday, 27 August 2018

Sisi Lain Monumen Pancasila Sakti

3


Hallo kalian.. !!!

Jika pada kiriman-kiriman sebelumnya saya membahas tentang sejarah yang terdapat di Monumen Pancasila Sakti, kali ini saya akan bercerita yang mungkin masih ada kaitannya dengan sejarah tapi dari sisi yang berbeda.


Sebenarnya saya sudah tidak asing dengan Monumen Pancasila Sakti yang berada di kawasan Lubang Buaya. Tapi bagi kebanyakan orang yang tinggal berdekatan dengan tempat bersejarah tersebut akan sedikit bertanya-tanya, “Ngapain sih, lu demen banget bolak-balik ke sana?”, jika teman saya yang bosan dengan kawasan tersebut saya ajak memasuki wilayah museum yang ada di dalamnya.

Saat kita memasuki gerbang bertuliskan Monumen Pancasila Sakti, kita masih akan menempuh jalan panjang dipenuhi pepohonan rimbun di salah satu sisi jalan yang akan mengantarkan kita pada tujuan di mana museum dan tempat bersejarah tersebut berada.

Pada pagi atau sore hari, terlebih saat akhir pekan, maka kita akan mendapati banyak penjaja jajanan yang berbaris di sekitar gerbang, dan jika pagi akhir pekan tiba maka lapangan area parkir akan berubah menjadi pasar dadakan yang berwarna-warni dan dipenuhi banyak pengunjung. Tapi sayangnya, pengunjung hanya bertujuan ke lapangan parkir. Tak ada minat lebih untuk memasuki lebih dalam ke area bekas rumah penyiksaan, sumur maut, maupun museum. 

Baiklah, karena dikenal sebagai tempat yang memiliki aura mistis yang sangat kental di kawasan museum, suatu hari saya dan teman saya memberanikan diri untuk datang ke Museum Pancasila Sakti saat sore hari yang kemungkinannya pasti sudah sepi pengunjung. Karena saat itu kantor saya masih berada di kawasan yang sama dengan daerah Lubang Buaya, saya dan teman saya menuju lokasi selepas pulang kerja sekitar pukul lima sore.

Bagi teman-teman yang juga berada di daerah yang sama, pasti tak asing lagi dengan kepadatan lalu lintas yang mengular dari Pangkalan Jati hingga Plaza Pondok Gede. Dan walaupun terbilang dekat, nyatanya kami butuh waktu sekitar 20 menit untuk tiba di tempat yang kami tuju. Tentu saja gerbang masih terbuka lebar, tapi kami masih harus melewati pintu masuk terlebih dahulu untuk membeli tiket.

Karena jam kunjung sudah habis, sedikit kami berbasa-basi pada penjaga pintu untuk memberikan kami ijin sebentar saja dan berjanji sebelum waktu Maghrib tiba kami sudah akan kembali lagi ke pintu keluar. Kami pun diijinkan. Sudah tak banyak orang yang berada di kawasan tersebut, hanya satu dua melintas, mungkin memang penduduk sekitar atau orang-orang yang memang tinggal di dalam kawasan museum. Tak ada lagi pengunjung kecuali kami.

Kami langsung menuju gerbang dalam. Sepi, tidak tampak ada seorang pun di sana. Kami pun memasuki kawasan sumur maut, daun-daun kering berguguran berserak di lantai. Suara angin sore terdengar lirih seperti menuntun kami untuk mendekat ke arah saksi-saksi bisu yang tampak menyambut kami dengan malu-malu.

Saya dan teman saya berkeliling ke rumah-rumah bilik yang ada di sana. Masih terawat memang, tapi kami ragu untuk mendekat. Bukan takut, tapi entahlah. Aura di sana terasa sangat sesak berdesakan. Kalian pasti paham bagaimana rasanya berada di tengah-tengah keramaian, kami merasakan hal tersebut dalam keadaan sepi. Keramaian yang tak kasat mata.


Dalam waktu yang tidak lama, kami benar-benar merasakan keramaian. Ramai seperti sibuk sekali. Kami sudah tak peduli lagi dengan keadaan sekitar, kami terus penasaran dengan keramaian yang justru berasal dari rumah yang berada di sebelah rumah penyiksaan. Kalian harus pahami bahwa kami tidak cukup berani untuk melihat atau sengaja melihat ke arah rumah penyiksaan yang dipenuhi oleh patung-patung yang tampak hidup tersebut. 



Di sebelah rumah penyiksaan tersebut, sayup-sayup seperti kami mendengar suara berbincang dari dalam rumah. Dengan niat yang teguh, kukuh, berlapis baja ingin mengetahui tentang apa yang terjadi di dalam sana, kami pun mendekat. Tapi sayang, keadaan memang benar-benar sepi. Kosong. Hanya kita berdua yang diapit keramaian yang tak tampak.

Akhirnya kami berkesimpulan bahwa suara tersebut adalah suara angin yang meniup rimbun dedaunan yang mungkin saja jatuh menyentuh genting-genting atap rumah atau terjatuh menyapu dinding bilik rumah. Mungkin.

Tapi kemudian semua itu hanya menjadi angan kami saja untuk menenangkan kegundahan kami yang masih penasaran. Kembali kami dikejutkan oleh sapuan angin yang membuka satu sisi daun jendela. Kami beranikan diri melihat ke arah dalam rumah. Sungguh, kami tidak sanggup. Teman saya terus merapalkan ayat-ayat yang mampu membentengi kami. Saya pun terus memohon untuk meminta mereka agar tidak dan jangan datang dengan kejutan-kejutan yang saya tidak siap. Hingga akhirnya kami pun bergegas keluar menuju pelataran dengan bayangan seorang wanita berkebaya di sudut mata kami. Tapi kami hanya mengabaikannya.

Lagi-lagi, kami tidak langsung bergegas pulang, tapi ada sesuatu yang menarik perhatian kami, yaitu celah kecil di ujung lapangan yang menuju ke bawah. Dengan melintasi lapangan, kami menuju celah kecil yang di baliknya tampak seperti alam terbuka di balik kawasan monumen tersebut. Rupanya celah menyerupai gerbang kecil tanpa daun pintu tersebut ada tangga turun yang menuju halaman luar kawasan monumen.

Suasana sudah benar-benar sepi, langit sudah tampak pendar gelap menuju malam. Dari tangga tersebut tampak bangunan yang tidak terlalu baru tapi sudah kotor. Yang saya lihat seperti dipenuhi oleh asap hitam. Saya pikir itu adalah asap sisa pembakaran sampah oleh warga sekitar yang berada di luar kawasan museum. Tapi ternyata teman saya tidak melihatnya. Yang saya lihat wajah teman saya berubah menjadi pucat, dan entah apa yang terjadi saat saya ingin bergerak kaki saya terasa tertahan. Saya tidak dapat bergerak.

Teman saya menarik tangan saya untuk membawa saya berlari bersamanya. Saya masih terseok-seok menyeimbangkan tegaknya berdiri tubuh untuk bisa dibawa berlari. Kaki saya terlalu lemah untuk menolak gravitasi dan melesat pergi. Teman saya terus berlari tunggang langgang menjauhi area lapangan dan keluar ke arah gerbang. Saya mengikutinya dengan langkah tertatih-tatih seperti ingin mencium bumi.

Mungkin siapa pun yang memandang keadaan kami saat itu akan tertawa terjungkal-jungkal karena betapa paniknya wajah kami. Kelakuan bodoh kami. Sesampainya di area parkir, kami bertemu dengan seorang laki-laki yang sudah tidak muda lagi tapi belum juga teramat tua. Kami mengiringi langkahnya, berjalan beriringan dengannya dan berharap jika terjadi sesuatu, kami tidak benar-benar sendiri, saya dan teman saya, tetapi ada orang lain yang mungkin petugas museum.

Laki-laki tersebut tampak biasa saja walaupun kami tidak melihat seperti apa tampak wajahnya, berpakaian serba hijau tua seperti penjaga tiket yang ada di depan, kami pikir memang seragam dari angkatan. Kami berjalan sambil mengatur napas agar tak lagi merasa oksigen berdesakan memasuki paru-paru, hingga sampailah kami di halaman tempat kami memarkirkan kendaraan kami dan tak peduli lagi dengan lelaki tadi. (haha oke, kita jahat)

Dengan rasa diburu janji yang akan kembali ke pintu keluar sebelum adzan Maghrib berkumandang, kami pun bergegas meninggalkan kawasan museum dengan perasaan tak menentu dan badan yang lemah lunglai. Ternyata, lelaki yang sama seperti yang kami temui tadi sudah berada menunggu kami di pintu keluar. Rupanya cepat juga langkah lelaki tersebut dibandingkan kita yang menggunakan kendaraan.

Sambil menyapa penjaga pintu tiket, kami pun turut menyapa lelaki yang kami temui tadi, “Hai Pak, Bapak yang tadi jalan bareng kita kan? Cepet banget udah sampai sini, lari ya Pak?”. Tapi lelaki yang kami sapa dengan sebutan bapak tersebut tertawa sambil menjawab, “ Neng ada-ada aja becandanya, bilang aja mau kenalan sama saya.”. Lalu tawa kami pun lepas karena kami pikir lelaki tersebut hanya modus.

Kami pun berpamitan dan mengarahkan kendaraan kami ke Jl. Lubang Buaya menuju Masjid At-Tin yang berada di kawasan Taman Mini Indonesia Indah guna melaksanakan sholat Maghrib. Seperti biasa, kami lewat jalan belakang supaya tidak terlalu macet, walaupun jalan yang kami pilih lebih sempit dibanding dengan melalui jalan pada umumnya.

Di sepanjang jalan menuju masjid, saya dan teman saya masih berbincang bercanda sambil membicarakan hal-hal yang kami temukan di museum dan kebodohan kami yang datang dengan tujuan yang tidak masuk akal. Lalu di tengah perjalanan, tetiba kendaraan yang dikendarai oleh teman saya seperti menabrak sesuatu, seperti seorang perempuan tapi sayangnya perempuan tersebut hanya diam dan tidak ada reaksi apapun selain menghilang dari pandangan kami.

Teman saya lalu melambatkan laju kendaraan yang kami tumpangi senja itu, kami mengecek apa yang terjadi. Tapi tak ada tanda-tanda apapun yang menandakan bahwa kami baru saja menabrak seseorang. Lalu ketika kendaraan mulai melajukan kecepatan seperti semula, terdengar seorang laki-laki memukul kendaraan kami sambil menghardik dengan kata-kata yang kami tidak dengar jelas. Tapi yang pasti, kami hanya mampu melihat pada kaca spion.

Ternyata, bayangan di spion memantulkan cahaya remang lampu jalananan dengan siluet laki-laki yang kami temui tadi saat ingin meninggalkan kawasan Monumen Pancasila Sakti. Dan kami pun akhirnya memahami, bahwa lain kali kami harus kembali lagi untuk meminta maaf dan tidak datang di saat yang tidak semestinya. Terlebih kami adalah orang baru yang tidak terbiasa berada di antara mereka.

Sesampainya di masjid, selepas sholat kami hanya bisa termenung-menung memikirkan hal yang baru saja menimpa kami sambil terus mengikuti bacaan-bacaan ayat suci yang terdengar mengalun meramaikan masjid. Hingga selesai sholat Isya dan melanjutkan perjalanan pulang, kami masih was-was merasa khawatir seandainya laki-laki dan wanita misterius tersebut masih berada di antara kami.



***
Bagi teman-teman yang belum pernah berkunjung ke Monumen Pancasila Sakti, sangat dianjurkan sekali untuk lebih mengenal sejarah Bangsa Indonesia. Pada hari-hari biasa di jam kerja, tentu saja kawasan tersebut ramai oleh pengunjung terlebih jika akhir pekan tiba. Harga tiket pun amat terjangkau. Asal jangan berkunjung di luar jam operasional, karena pasti tutup.


Selamat berwisata sejarah !!!


Sunday, 8 July 2018

Adek Irma Suryani Nasution Dalam Kenangan

0




Hallo teman,
setelah sekian lama serta e-mail - e-mail permintaan untuk melanjutkan bercerita di blog ini, simak yuks cerita kali ini.
semoga suka yaaa ...


____________________________________________________________________________________________________________________________





Kenapa kau tembak tubuhku

Aku tak bersalah padamu

Aku hanya cinta pada ibu dan bapakku

Itukah dosaku??

Kenapa kau sampai hati memotong hidupku
Kau tak kenal padaku . . . . . . . . . . .!!!
. . . . . . . . . . . . .­­­­­­



Seandainya Adek Irma Suryani Masih Hidup ...


Tak jauh berbeda dengan Pierre Tendean, kita ketahui jika Adek Irma Suryani Nasution juga merupakan korban meninggal yang tidak direncanakan atas aksi penculikan yang semula menyasar pada Jenderal Abdul Haris Nasution. Pagi kelam itu, tanpa sengaja peluru-peluru yang berhamburan mencari mangsanya menembus tubuh mungil si bungsu dari Jenderal AH. Nasution. Sedangkan Jenderal AH. Nasution berhasil meloloskan diri dari aksi berdarah di pagi hari tersebut karena desakan dari sang istri, Johana Sunarti Nasution.


Adek Irma Suryani, si manis nan lincah putri bungsu dari keluarga A.H Nasution lahir pada 19 Februari 1960. Tapi kelincahan si manis ini harus berakhir di tangan-tangan kotor yang merenggut nyawanya secara paksa, ia meninggal di usia 5 tahun 7 bulan. Usia yang masih sangat belia di mana anak-anak seusianya masih senang bermain, berlarian sana-kemari serta bermanja-manja kepada orang tuanya. Tapi hal memilukan tak dapat dihindari lagi ketika 3 peluru menembus tubuh Adek.

Kini, nama Adek Irma Suryani hanyalah sebuah kenangan pilu tentang bagaimana perjuangan hidup seorang anak yang bertahan dengan peluru yang bersarang di tubuhnya selama beberapa hari. Dalam sebuah wawancara, Ibu Nasution pernah berujar bahwa jika ia melihat anak-anak yang mungkin seumuran atau teman bermain Adek, maka Adek pasti akan sama sebesar mereka jika Adek masih hidup.

Semasa hidupnya, Pak Nas dan Ibu Nas sering membicarakan segala sesuatu tantang Adek saat mereka merindukan sosok putri bungsunya yang telah terlebih dahulu berpulang. Adek Irma Suryani berpulang setelah 5 hari lambungnya robek oleh peluru. Waktu itu dini hari di tanggal 1 Oktober 1965 ketika rumah Pak Nas di Jl. Teuku Umar diserbu oleh segerombol pasukan pengkhianat. Mendengar suara ribut-ribut Adek pun terbangun. Tantenya, Mardiah (adik Pak Nas) segera menggendong Adek dengan maksud ingin menyelamatkan Adek ke tempat yang lebih aman.

Tapi malang tak dapat ditolak, saat Mardiah mencoba membuka pintu kamar, senjata yang berada di balik pintu langsung memuntahkan pelurunya ke arah Mardiah yang sedang menggendong Adek. Rupanya para pengkhianat tersebut menyangka bahwa yang akan keluar dari dalam kamar adalah Pak Nas, tetapi ternyata Adek-lah yang menghadapi maut di ambang pintu tersebut. Segera Ibu Nas mengambil alih Adek untuk kemudian digendongnya dengan darah yang telah membasahi tubuh Adek.

Lalu, apakah Ibu Nas menyesal mengapa pada saat itu Mardiah membuka pintu yang berakhir dengan kematian Adek?

Tidak, Ibu Nas berkata bahwa jalannya memang sudah demikian. Mardiah juga tidak sengaja dan tidak tahu bagaimana bahayanya jika membuka pintu itu. Ibu Nas menuturkan bahwa mereka tidak menyesali kejadian tersebut, karena jika dipikirkan, banyak peluru yang melesat melewati rambutnya hingga rambutnya terbawa, tak hanya itu karena peluru juga melesat menyerempet ketiaknya. Ibu Nas merasa seharusnya saat itu ia sudah mati, karena saat direkonstruksi, tepat di tempat ia berdiri di balik pintu, terdapat lubang-lubang peluru yang menembus pintu.

Sebagian orang yang akan meninggal, kadang bertingkah laku di luar kebiasaan sehari-harinya. Hal tersebut merupakan firasat bagi orang-orang atau pun keluarga yang akan ditinggalkannya. Ibu Nas sendiri tidak merasakan ada firasat apapun atas kepergian Adek. Tapi Ibu Nas sendiri mendapatkan firasat tentang kejadian yang akan menimpanya keluarganya kala itu.

Pada hari-hari menjelang bulan Oktober di tahun 1965, Ibu Nas sempat bermimpi bahwa ayahnya yang sudah meninggal dunia di tahun 1963, RP. Gondokusumo, yang dekat dengan Bung Karno datang dengan menggunakan kain sarung dan singlet. Dalam mimpi tersebut ayahnya berkata bahwa saat ini keadaan sedang ruwet dan negara sedang dikacaukan.

Pada pagi hari setelah Pak Nas didesak oleh Ibu Nas untuk menyelamatkan diri dengan melompati tembok di sebelah rumah, gerombolan pengkhianat pergi dengan membawa serta sang ajudan. Ibu Nas masih menggendong Adek yang sudah bermandikan darah.  Ditatapnya punggung ajudannya yang sudah ia anggap sebagai anggota keluarganya sendiri menjauh, digiring oleh orang-orang yang berhasil memporak-porandakan rumah dan juga buah hatinya. 

Setelah keadaan kembali hening dan kosong, Ibu Nas berusaha untuk mencari supir guna membawa Adek ke rumah sakit. Ibu Nas sempat mampir ke markas KKO memberitahukan apa yang baru saja ia alami. Sesampainya di RSPAD, Ibu Nas juga memberitahukan kepada dokter. Rubiono untuk melaporkan ke Istana tentang apa yang baru saja terjadi.

-----------------

Adek mau terus hidup...


Pak Nasution - Adek Irma - Ibu Johana Sunarti - Yanti
Di ruangan rumah keluarga AH.Nasution yang kini telah menjadi Museum Sasmitaloka Jenderal AH. Nasution, banyak terpampang gambar dan foto Adek. Di samping foto-foto tersebut, terdapat pula lubang-lubang bekas peluru yang menembus pintu dan perabot lainnya. Rumah tersebut dibiarkan seperti itu agar selalu tampak asli seperti dahulu.

Gambar-gambar Adek yang dipasang merupakan pemberian dari kawan-kawannya yang bersimpati. Berkali-kali lukisan Adek berdatangan serta hal-hal yang berhubungan dengan Adek. Semua masih tetap terpelihara untuk mengenang Adek. Setelah kejadian yang memilukan tersebut, keluarga A.H Nasution sempat bermaksud untuk pindah rumah. Tapi kenangan tentang Adek yang selalu hidup di tengah mereka dan membuat mereka tetap menempati rumah tersebut.

Baju-baju Adek diberikan kepada anak-anak lain seusia Adek atau beberapa disimpan dan sempat digunakan oleh cucu Bapak dan Ibu Nas. Baju kesayangan Adek Sebagai Kowad tetap disimpan dan dipamerkan di museum. Baju pestanya yang terakhir diserahkan oleh pihak keluarga ke Museum Taruna di Magelang.

Bagaimana pun tabahnya hati seorang ibu yang telah kehilangan anak yang dicintainya, tentu masih tergetar juga perasaannya jika harus mengingat peristiwa yang merenggut nyawa putri kecilnya yang belum lama mewarnai keceriaan di hari-harinya. Bagaimana ketika saat Adek baru saja tertembak, Adek berkata bahwa ia ingin tetap hidup.


Prosesi pemakaman Adek Irma Suryani

Saat ingin dioperasi dan minum obat untuk persiapan, Adek sempat berkata, “Adek minum obat supaya Adek cepat sembuh.”. Tapi takdir berkata lain, Adek telah benar-benar kehilangan rasa sakitnya untuk selama-lamanya.

Kenangan pada Adek tak hanya membekas bagi keluarga, tapi kita semua bisa merasakan bagaimana peluru-peluru yang beterbangan di rumah tersebut menembus tubuh mungil seorang anak tak berdosa. Adek mungkin telah tiada, tapi kenangan dan peninggalan-peninggalan Adek bisa kita lihat di Museum Jenderal AH. Nasution, Jakarta.

Tentu saja, Adek Irma Suryani Nasution sudah tidak ada, tapi namanya masih selalu membekas di hati keluarganya, teman-temannya, dan juga kita semua.



sumber: Astuti Wulandari (Adek Irma Suryani Nasution dalam Kenangan)


Semoga bermanfaat,
Salam hangat :)


Monday, 2 October 2017

(masih) Tentang Pierre Tendean

21


Halloo kaliaannn .. ^^
Terimakasih sudah menemukan halaman ini untuk dibaca demi mengisi waktu kalian atau hanya sekedar penasaran.

Saya rasa dari mayoritas postingan yang sudah saya buat mungkin sebagian besar tentang Pierre Tendean. Ijinkan kali ini saya membahasnya lagi di tulisan saya ini.

Dari buku-buku yang pernah saya baca, Pierre Tendean adalah sosok yang menawan yang sudah tidak diragukan lagi oleh para saksi hidup yang bisa merasakan keadaannya saat itu. Bahkan oleh generasi yang jauh setelahnya-pun bisa sungguh merasakan pesonanya, tatapannya, hingga --- (ah, saya terlalu banyak berfantasi)

Banyak ditulis dan diceritakan pula bahwa Pierre Tendean tidak saja menjadi rebutan bagi para gadis remaja tetapi juga menjadi rebutan para jenderal untuk dijadikan ajudan.Tapi terhitung 15 April 1965 Pierre Tendean memangku jabatan sebagai Ajudan Menko Hankam/Kasab Jenderal A.H NAsution.

Kita baru saja memperingati hari Kesaktian Pancasila yang sebelumnya diwarnai dengan kejadian berdarah G30S PKI.
Saya tidak akan membahas tentang korban lain selain perwira muda yang menjadi tameng untuk Sang Jendral. Pengorbanannya yang lalu mengantarkannya pada predikat Pahlawan Revousi tidaklah mudah, nyawa taruhannya. Dan bahkan media luar negeri-pun ikut serta dalam penelusuran pengorbanannya.

Dari paper yang ditulis oleh Ben Anderson yang berjudul 'How Did The Generals Die ?'
Capt. Pierre Tendean.
Hasil pemeriksaan luar adalah sebagai berikut:
1. Pada mayat ditemukan artikel berikut pakaian dan harta pribadi:
a. Jaket biru ritsleting, dengan lapisan flanel cokelat. 5 cm ke kanan
ritsleting, 21 cm di bawah kerah, sobekan berukuran 4 cm dengan 0,5 cm. 8,5 cm di bawah atas, pengukuran sobekan lain
3,5 cm dengan 1 cm. Pada bagian belakang kanan, 15 cm dari tengah, 25,5 cm di bawah bahu, lubang kecil berukuran 2,5 cm dengan 1 cm.
b. Celana hijau.
c. Celana putih, merek CLUB-MAN.
d. Saputangan hijau dengan garis-garis merah dan putih, di saku kanan
celana.
e. *censored*
2. Seorang laki-laki Indonesia, sekitar 30 tahun, mungkin keturunan Eropa parsial. Warna kulit dan kondisi gizi belum ditentukan. *censored*. Rigor mortis (kekakuan pada mayat) tidak ada lagi.
Memar subkutan (bawah lapisan kulit) belum ditentukan. Ketinggian mayat itu 176 cm, berat 65 kilo
grams.
3. Mayat menunjukkan tanda-tanda pembusukan canggih, sebagai berikut:
a. Seluruh epidermis hilang.
b. Perut bengkak; pada kedua kaki dan dada pola vena transparan.
c. Rambut di bagian atas dan depan kepala, alis, dan ketiak semua hilang.
d. Kedua bola mata rusak. Warna rambut coklat, panjang sekitar 5 cm. Selangkangan berambut juga coklat; tumbuh rata-rata.
4. kondisi gigi adalah sebagai berikut:
a. Pada rahang kiri atas, gigi kedua adalah palsu, dan gigi tersebut benar hilang.
b. Pada rahang kanan atas, gigi keenam hilang.
c. Pada rahang kiri bawah, gigi kelima hilang.
d. Pada rahang kanan bawah, gigi ketujuh hilang. *skipped*
5. Kedua tangannya terikat erat di pergelangan tangan; kedua tangan yang memutar di belakang punggung mayat dan ditarik ke atas, dengan tali colled putaran dada dan punggung. Kabel itu berwarna merah.
6. (k). Pada bagian belakang dasar cincin dan jari tengah tangan kiri, goresan berukuran 4 cm dengan 3 cm.
‪#‎edited‬ ‪#‎CMIIW‬


Mohon  maaf jika postingan ini membuat tidak nyaman, sebenanrnya hasil visum tersebut sudah dipublikasikan dalam bahasa asing, saya hanya menerjemahkannya saja.
Dan lalu, saya merasa bahwa tulisan tersebut dapat melengkapi hasil visum yang beredar di kebanyakan literatur.
Semoga tidak akan pernah ada kejadian serupa yang saya rasa kian marak kekejaman di masyarakat.
Hanya untuk koreksi diri, bagaimana seandainya hal tersebut terjadi pada orang-orang yang kita kasihi.

-duh, kok jadi seserius ini-

Itu aja dulu yah :D


Pak Pierre yang mana yaa ?? ^^

Salam hangat, Lisna

Monday, 25 September 2017

Kapt. Pierre Tendean

10

Ia gugur mempertahankan Pancasila - Perwira Ganteng, suka mbanjol banjak gadis ketjantol.


Djakarta, (Yudha Minggu) --- Tahun 1965 saja menjadi Empu.", demikian antara lain pesan Letdjen G.P.H. Djatikusuma, dalam perpisahan antara beliau dengan Para Perwira Corps Zeni A.D, di Aula ZIBANG, tanggal 19 Oktober 1965, berhubung dengan keberangkatan beliau untuk memangku jabatan yang baru, sebagai Komandan Political Combat Outpost di Rabbat, Marocco, sebagai Dubes, dalam rangka pengganyangan NEKOLIM.


"Kerisnya Nogososro, pamornya sengkelat, ya saya seperti Empu Supodrijo, Empu Djokosuro, seperti empu lainnya. Kerisnya antara lain: Kapten Zeni Anumerta Carmel Napitupulu, yang gugur di Irian Barat sewaktu TRIKORA yang lalu. Kapten Zeni I Gde Awet yang didrop di Merauke, sekarang masih ada. Lettu Ibrahim Saleh, yang membuat tentara Inggris dan Australia tidak berani di jalan sembarangan karena takut ranjaunya. Lettu Karsun, yang membuat jalan baru di Kalimantan Barat. Dan yang terakhir ini Kapten Anumerta Pierre A. Tendean, gugur sebagai Pahlawan Revolusi, mempertahankan Pancasila."


Demikianlah Kapt. Czi Anumerta Pierre A. Tendean, salah satu daripada banyak keris-keris yang ditempa di Akademi Militer Jurusan Teknik, di Panorama Bandung. Sebagai perwira remaja, membuktikan bahwa dirinya ikut andil besar dalam penyelesaian Revolusi ini. Bahwa ia ikut menjadi landasan dari Revolusi 45 yang kita pertahankan ini.


Mari kita mengungkap sedikit kehidupan Kapten Pierre Tendean tersebut.
Ayahnya, Dr. Tendean, putra Minahasa, kini menetap di Semarang.
Capt. An. Pierre memilih karier militer untuk masa depannya. Dari semula ibu dan ayahnya menghendaki supaya ia sekolah di Universitas atau di Akademi lain. Mulai Basic Training, ayah dan ibunya berkali-kali menulis surat supaya pindah saja dari awal ke sekolah lain. Tetapi Taruna Pierre bercita-cita keras untuk menjadi prajurit. Demikianlah ia tidak mau pindah dan bertekad untuk tetap di Akademi Zeni A.D ( nama dari Akademi waktu itu).

Dalam permulaan pendidikan, Taruna Pierre telah merebut hati para rekannya, mendapat nama baik di antara teman seangkatannya, juga dari para seniornya. Sebagai seorang calon perwira dia dapat memegang teguh martabat keperwiraannya, tetap memiliki militansi yang tinggi.

Dalam hal pendidikan di Akademi ini, dalam hal mata pelajaran Civil Technik, dia termasuk dalam golongan yang cukup baik.

Kombinasi antara karakter dan kecerdasan otaknya inilah yang menyebabkan atasan memilih dia sebagai Komandan Batalyon, Taruna Remaja. Tugas ini dilaksanakan dengan baik sekali. Beban ini masih ditambah dengan jabatannya sebagai Wakil Ketua Senat Corps Taruna. Teman-temannya mempercayakan dia dalam tugas-tugas Pembinaan Corps.

Meski Taruna Pierre sibuk dengan tugas-tugas kedinasan dan Corps, masih sempat juga Taruna Pierre meneruskan hobbynya dalam olah raga. Sebagai pemain basketball dan volley, dia ikut mempertahankan nama baik Akademi Zeni dalam hal olah raga, misalnya dalam pertandingan-pertandingan Pekan Olah Raga Mahasiswa, PORAKTA, pertandingan antara kesatuan-kesatuan militer, dan pertandingan-pertandingan lainnya. Segala aktivitas ini dijalaninya dengan tangkas dan semua sukses.


Taruna Pierre, orangnya ganteng, tinggi, atletis potongannya, simpatik. Banyak Mojang Priangan  menamakan dia Robert Wagner dari Panorama, dan banyak gadis-gadis mengusiknya, bila dia memimpin parade Taruna pada setiap perayaan hari besar. Rasa simpatik ini terutama tidak tertuju pada keadaan fisiknya, tetapi tertuju pada tingkahlakunya, kesederhanaannya, sopan santunnya, karakternya yang baik, dan satu hal lagi yang khas dari Taruna Pierre adalah selera humornya. Dalam kegiatannya sehari-hari penuh humor. Baik waktu berkumpul maupun dalam tugas-tugas yang berat sekalipun selalu diselinginya dengan humor.


Kata-kata humornya yang  mengena di antara kawan karibnya antara lain: " Hubungan antara Taruna Akmil Djurtek dengan para mahasiswa FKIP Bumi Siliwangi harus dipererat. Harus dipupuk terus. Sebab meneruskan tradisi dari kakak-kakaknya, ialah demikian menggondol Ijazah Akademi sekaligus menggondol gadis FKIP. Meskipun putri-putri itu belum lulus sekalipun, terus saja dibawa pergi untuk kawin."

Tentang kehidupan pun dia memiliki humor lain:

" Hidup teratur dapat dimulai setelah kawin."

" Kawin tanpa cinta juga boleh, cinta setelah kawin adalah lumrah."

Humor yang paling nekat adalah: " Makan banyak, minum banyak, tidur banyak, tapi kerja juga harus banyak. Pokoknya semua serba banyak."




Umurnya masih sangat muda. Lahir tahun1939. Maka belum banyak tugas-tugas militer diikutinya. Tahun 1958 tugas Operasi Sapta Marga di Sumatera Barat. Pangkat masih Kopral Taruna.
Dalam Operasi Pengganyangan NEKOLIM, Operasi DWIKORA, Lettu Pierre bertugas di perbatasan, beberapa kali memimpin sukarelawan masuk daerah musuh selalu berhasil dengan selamat, tugas-tugasnya selalu berhasil. Dalam tugas-tugas tersebut banyak keadaan kritis yang dihadapinya, namun selalu dapat mengatasinya dengan segala keberaniannya dan akalnya.

Tugas di perbatasan ini ditinggalkannya karena ada tugas baru, ialah sebagai Ajudan Menko Hankam Jendral Nasution. Tugas ini dipikulnya dengan rasa penuh tanggung jawab. Dengan keberanian yang luar biasa dia menjadi tameng dari Jendral Nasution, dan ini diakhiri dengan gugurnya sebagai Pahlawan Revolusi.

Demikian Kapten ZENI Anumerta Pierre A. Tendean sebagai Perwira remaja menunjukkan kemampuannya dalam banyak tugas.


---
Ditulis lagi dengan sumber asli Berita Yudha oleh; B. Irawan cs. Lettu CZI

Friday, 14 July 2017

Mengenang Pierre Tendean (Part. III)

22

Hallo kalian,

-saya menyapa dengan nada yang sok akrab-
Apa kabar ?

Well, terima kasih teman-teman yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca cerita konyol saya di blog ini. Terima kasih juga untuk mau mengenal dan berteman dengan saya. Saya cinta kalian ^^.

Oke, karena banyak permintaan dan dukungan untuk melanjutkan kisah dan menulis kembali, kali ini seperti biasa saya akan berbagi sedikit cerita menlanjutkan cerita yang sebelumnya.

Mungkin tulisan saya terlalu identik dengan -saya pikir kalian juga sudah tau- Pierre Tendean. Yap, beberapa waktu lalu saat saya terlalu rindu dengan sosoknya, saya menyempatkan diri untuk datang berkunjung menemui kakak beliau, Ibu Mitzie.

Untuk yang bertanya-tanya bagaimana kabarnya, beliau dalam keadaan yang sangat baik. Bisa dibilang sangat baik mengingat usianya yang sudah sepuh.
Saya mengunjunginya sejak pagi sebelum siang terlalu terik.
Seperti biasa dengan sambutan hangat dan riangnya, beliau mempersilakan saya masuk dan menikmati halamannya yang terbilang luas dan rimbun. Saya dipersilakan masuk melalui pintu depan yang menghadap ke halaman.

Rumahnya masih teduh, seteduh tatapannya yang banyak menyimpan cerita tentang orang terkasihnya. Beliau mengajak berbincang tentang keadaan rumahnya saat ini yang baru beberapa hari lalu digunakan untuk lokasi pengambilan gambar sebuah film.

Setelah mempersilakan duduk, beliau mulai mengingat-ingat sebentar siapa saya -hahah, karena siapalah saya yang tak tau diri ini-. Sambil benbincang ringan, beliau menyuguhkan sebotol minuman legendaris serta makanan ringan ala Lebaran. Tidak hanya itu, karena masih dalam suasana Lebaran, beliau juga bercerita bahwa ada seseorang yang membuatkannya ayam kodok untuk perrsediaan makan beliau beberapa hari, bercerita juga beliau tentang kue-kue Lebaran pemberian dari besannya.










Sambil menikmati sajian yang dihidangkan, Ibu Mitzie bercerita pula tentang hobby-hobby dari adik tersayangnya. Ternyata salah satu hobby dari Pierre Tendean adalah membaca, hampir setiap waktunya Pierre habis dengan membaca ketika berada di kamar.

Buku - buku kesukaan Pierre Tendean juga masih disimpan dengan baik oleh Ibu Mitzie. Tanpa diminta untuk memperlihatkan koleksi buku sang adik, dengan senang hati beliau mengeluarkan koleksi buku-bukunya. Dan dengan senang hati pula saya menyambutnya dengan suka cita. (halah)







Koleksi Buku Pierre Tendean




Sebenarnya masih banyak koleksi buku dari Pierre Tendean, termasuk buku karya Pramoedya Ananta Toer yang masih beredar hingga sekarang. Banyak kenangan dari setiap buku yang beliau ceritakan, tapi yang paling berkenan adalah sebuah buku yang sangat adiknya sayang, hingga buku tersebut selalu dibawa kemana pergi termasuk saat Pierre Tendean masih menempuh pendidikan.






Buku Kesayangan Pierre Tendean





Dari perbincangan santai di hari itu, tak terasa waktu berjalan terlalu cepat. Sebenarnya ingin berlama-lama bersama Ibu, tapi apalah daya saya harus pamit. Sepertinya juga Ibu harus istirahat mengingat jam tidur siangnya tersita oleh tamu tak diundangnya.

Untuk kali ini, saya sudah cukup merasa terbayarkan tentang rindu pada Pierre Tendean, dan mengenangnya adalah cara terbaik untuk membayar segala rindu seperti yang pernah dilakukan oleh ibunda dari Pierre Tendean ketika rindu anak lelakinya yang telah berpulang.







Semoga apa yang saya bagikan kali ini bermanfaat untuk semua tanpa bermaksud merugikan pihak manapun.

Trims,
Salam hangat, 
Lisna :)

Monday, 1 May 2017

Asal Mula Jalan Kapten Tendean - Jakarta

0

Hallo semua..
Bagaimana kabar perubahan?


Pernah dan pasti tau kan bahwa kita akan dengan mudah menemukan Jl. Kapten Tendean di beberapa kota besar di Indonesia. Kebetulan saya bekerja di daerah yang setiap hari mengharuskan saya melewati Jalan Tendean, bahkan ada Halte Tendean dan Tendean Residence.
Well, nama Tendean sudah tidak asing lagi jika kita berada di sekitaran Jakarta-Selatan.



Pemberian nama Tendean pada salah satu jalan yang berada di bilangan Mampang Prapatan tersebut bukanlah tanpa alasan. Secara tidak sengaja saya sempat bertanya kepada saudara kandung dari Kapten Tendean tentang pemberian nama pada jalan tersebut di daerah Jakarta-Selatan. Ternyata saat menjadi ajudan dan tinggal di daerah Menteng, di sela-sela waktu dinas Pierre Tendean juga sering menghabiskan waktu dengan menyusuri Jakarta atau berkunjung ke rumah teman-temannya yang berada di Jakarta.

Selain suka berrmain dengan Ade Irma, Pierre Tendean yang dikenal sebagai sosok yang ramah juga mempunyai lumayan banyak kenalan warga sekitar. Beliau juga sering menghabiskan waktu untuk sekedar makan malam di bilangan Jalan Sabang. Selain itu, Pierre Tendean juga sering berkunjung ke rumah komandannya saat itu yang tinggal di daerah Mampang Prapatan.

Tidak diketahui dengan jelas siapa nama komandan beliau saat itu, tapi menurut narasumber yang saya temui bahwa Pierre Tendean banyak menghabiskan waktu saat beliau sedang libur dinas atau menghabiskan waktu dengan duduk-duduk sambil berbincang ringan.

Maka setelah wafatnya Pierre Tendean, dijadikanlah wilayah Mampang prapatan dimana beliau sering tampak duduk-duduk di rumah komandannya diberi nama Jalan Kapten Tendean, yang hingga saat ini jalan tersebut semakin ramai dan banyak pembangunan yang semakin membuat nama Tendean mudah diingat.


Semoga tulisan saya memberi informasi yang bermanfaat.
Trims dan Salam Hangat,
Lisna :)

Monday, 2 May 2016

Persiapan menjadi backpacker cewek (nekad) ke Jepang

1

Untuk saat ini mungkin Jepang adalah salah satu negara di Asia yang paling ingin dikunjungi oleh pada traveler, khususnya bagi para pecinta dorama, anime, manga, juga beberapa  pecinta jalan-jalan dengan pelbagai alasan lainnya.

Sering kita dengar bahwa biaya untuk datang ke Jepang dan biaya hidup selama di sana terhitung mahal. Mungkin tidak akan tampak mahal bagi beberapa orang, tapi bagai saya, yess m a h a l. Karena  mahal versi saya dan saya tetap penasaran dengan negara tersebut , alhasil saya  membuat persiapan sebagai berikut yang pada akhirnya, saya berhasil datang ke Jepang dengan budget minimalis.
Tapi jangan harap perjalanan ini dipenuhi dengan segala fasilitas bagus, kemewahan, dan makanan serba enak. Gambaran seperti itu tidak pernah ada dalam kamus backpacker sejati  (eaahh)..


1.            Cek Saldo Tabungan
Setidaknya saldo ini cukup untuk membeli tiket pesawat, anggaran untuk membeli tiket ini juga harus diminimalisir. Jika bayangan kita tiket PP Jepang sekitar 10-12 juta, abaikan saya, kita bisa pangkas anggaran 3-5 juta saja. Setidaknya hal tersebut membuat kita lebih selektif dalam mencari tanggal keberangkatan dan maskapai. Dan untuk biaya hidup selama di negara tujuan, kita bisa mulai menabung setiap bulan sampai hari keberangkatan tiba.



 2.            Membeli Tiket Pesawat

Carilah maskapai yang sering mengadakan promo, sebaiknya daftar sebagai member dan sering-sering cek e-mail. Karena kita akan sering mendapatkan notifikasi promo untuk tujuan ke beberapa negara. Kelebihan dari membeli tiket promo adalah kita bisa mendapatkan tiket dengan harga yang sangat amat teramat terjangkau, bahkan  jika beruntung untuk PP ke Jepang bisa kita dapatkan dengan harga 3 jutaan.  Kekurangan dari tiket promo adalah bahwa kita tidak dapat menentukan sesuka hati perihal tanggal dan waktu yang ditentukan oleh pihak penyelenggara promo. Jadi kita harus pandai menyesuaikan waktu kita dan jadual promo tiket. 




3.            Bagasi dan bawaan
Untuk menjadi backpaker, kita tidak harus membawa hal-hal sepele yang fungsinya tidak terlalu penting, karena banyaknya bawaan akan mempengaruhi harga tiket pesawat. Untuk harga tiket promo biasanya tidak termasuk dengan bagasi dan makan. Jadi sebisa mungkin kita harus mengatur sedemikian rupa barang yang akan kita bawa agar tidak kelebihan berat maksimal bagasi kabin. 

4.            Mencari tempat menginap yang aman.
Tempat menginap, yess !!! bukan penginapan. Karena harga penginapan termurah di Jepang per malam sekitar ¥3.500, jadi dengan sangat bijaksana mari kita alokasikan dana tersebut untuk kebutuhan lain yang –lebih-sangat-penting dan mendesak. Karena yang kita butuhkan adalah mencari teman sesama backpacker  yang menyediakan tempat tingal. Untuk hal ini saya menggunakan jasa Couchsurfing.com yang memudahkan saya berkenalan dengan para backpacker di seluruh dunia dan bersedia menyediakan kita tempat untuk bermalam dengan gratis!!
Yes, gratis !!  Tapi tetap kita harus menunjukkan bahwa kita adalah orang Indonesia yang terkenal ramah, penuh sopan santun, dan bersahaja.
Selama kita bermalam usahakan ciptakan suasana yang menyenangkan, jangan lupa untuk menceritakan kekayaan negeri kita tercinta, dan yang sangat penting adalah beri mereka oleh-oleh yang sangat khas Indonesia. Biasanya mereka akan sangat senang dan takjub sekali dengan barang-barang atau makanan khas Indonesia, dan tak jarang mereka juga akan memberikan buah tangan untuk kita. Selama ikut program Couchsurfing.com tersebut usahakan untuk selalu mematuhi segala peraturan yaa, sebab jika tidak maka akan sulit untuk kita mendapatkan tempat singgah lainnya melalui Couchsurfing.com.

5.            Obat-obatan dan makanan ringan.
Selama berada di negara dengan kondisi iklim yang berbeda, biasanya tubuh akan beradaptasi dengan keadaan. Pastikan kita selalu dalam kondisi fit agar mudah dan lancar dalam melakukan perjalanan. Bawa obat-obatan yang mendukung kita untuk selalu bisa berjalan jauh tanpa kelelahan yang teramat sangat dan sakit pundak akibat membawa tas kemanapun kita pergi. Bawa makanan ringan yang tahan lama untuk berjaga-jaga saat kita tidak cocok dengan beberapa makanan Jepang.

6.            Restu orang tua.
Ini adalah aspek yang sangat penting bagi para anak yang masih selalu bergantung pada doa orang tua. Beri tahu orang tua kita bahwa kita akan melakukn perjalanan yang sangat kita inginkan, perjalanan yang sangat membutuhkan restu dan ijin dari mereka demi kelancaran setiap rencana yang sudah kita susun masak-masak.



Jika semua persiapan tersebut sudah kita lakukan, maka secara kasar kita sudah bisa menakar berapa budget yang harus kita siapkan untuk pergi ke Jepang ala backpacker.  Kita sudah bisa menghemat bagasi dan penginapan, 3 hari tanpa penginapan kita bisa menghemat ¥10.500 atau sekitar Rp. 1.150.000,-.

Sudah terbayang hematnya? Ini baru persiapan, ada hal yang paling penting dalam perjalanan sebagai backpacker, yaitu tubuh yang tangguh dan jiwa yang bahagia.
Untuk perjalanan selama di Jepang menggunakan tips tersebut, akan saya ceritakan pada kesempatan lainnya. Dan saya berharap, info ini bermanfaat bagi teman-teman yang ingin merealisasikn mimpinya menginjakkan kaki di Negeri Matahari Terbit.


Semoga bermanfaat.
Salam hangat,
Lisna J

Wednesday, 13 April 2016

Ke Jepang dengan Visa Gratis

2

Haii Hallo temans,
Lama tidak menulis, semoga saya masih bisa memberikan informasi bermanfaat ya. hihihi ..

Kali ini tentang membuat visa gratis jika ingin ke Jepang, negara ampuh yang menjadi tujuan (hampir) semua orang Indonesia  -termasuk saya-. Siapa yang tak kenal Jepang? Memori sejarah kita pasti langsung teringat pada bom atom Hiroshima dan Nagasaki. (haha :D)

Berawal dari niat backpacker ke Jepang, segalanya saya siapkan dari biaya yang paling murah. yaitu visa gratis (malahan) !! hahaha

Sebelum membuat Visa Jepang, saya banyak membaca blog demi tidak tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Tapi ternyata, membuat Visa Jepang tidak serumit cerita dari kebanyakan orang. Jadi, saya akan memberikan versi simple dan mudah cara membuat Visa Jepang tanpa harus pikir panjang.

Hal pertama yang harus disiapkan untuk bisa membuat dan mendapatkan Visa Jepang gratis adalah E-Paspor. Yap, karena visa gratis ini hanya bisa diberikan bagi pemegang E- Paspor.

Setelah survey letak Kantor Kedutaan Jepang di Indonesia, saya memutuskan ke sana untuk menggunakan angkutan umum karena tidak ada tempat parkir dan saya malas untuk mencari tempat parkir terdekat.

Karena saya ada di Jakarta bagian pinggir (baca: Bekasi-Barat), jadi saya datang dengan menggunakan Commuter Line dan turun di Stasiun Sudirman. Setelah keluar dari stasiun, jalan sedikit untuk menyebrang di jembatan penyebrangan, lalu naik apa saja bis angkutan umum yang lewat di Jl. Sudirman tersebut, karena Kedutaan Jepang berada tidak terlalu jauh.

Sesampai di Kedutaan Jepang, memang kantor tampak sepi, security juga hanya satu saat saya datang. Tanya saja, maka security tersebut akan membantu kita menunjukkan pintu – arah – dan cara masuk.
Setelah masuk pintu pertama, di sebelah kanan ada penjaga yang akan meminta kita untuk menukarkn kartu identitas dengan kartu pengunjung.
Setelah mendapatkn kartu kunjungan, kita lalu memasuki pintu di sebelah loket tadi, di dalamnya tas kita akan diperiksa menggunakan X-Ray. Lalu keluar, dan masuk lagi melalui pintu kaca.
Setelah melalui pintu kaca, lalu masuk lagi ke pintu kaca lainnya dan masuklah kita ke pintu di sebelah kiri.
Jangan bayangkan betapa dan berapa banyaknya pintu yang akan kita tembus. Semua demi perjalanan kita !! hahah..

Well, setelah masuk ke ruang pembuatan visa, kita harus mengambil nomor antrean yang nantinya untuk proses dokumen-dokumen kita sesuai urutan datang.
Saat mengambil nomor antrean, pilih mesin dengan Bahasa Inggris, karena ada mesin berbahasa Jepang yang saya tidak mau sok tahu pencet-pencet tidak jelas :D



Di ruang tersebut tidak terlalu banyak orang, jadi berapapun digit nomor antrian kita tidak mempengaruhi berapa lama lagi nomor kita akan dipanggil.
Untuk membuat Visa Waiver tersedia  form yang harus kita isi untuk proses pembuatan visa. Form ada di dekat mesin antrean.

Setelah nomor kita muncul di atas nomer loket, datangilah loket dengan senyum cemerlang meyakinkan. Berikan nomor antrean, E-Paspor, dan Form Visa Waiver. Biasanya petugas loket akan menanyakan berapa banyak teman yang kita bawa untuk membuat visa. Jadi jika kita datang bersama-sama, kita bisa sekalian memproses dalam satu nomor antrean.
Setelah proses  yang tidak lama, maka petugas akan memberikan kita bukti pengambilan Paspor di hari berikutnya. Dan semuanya gratis !!!


Yattaa , Visa ke Jepang sudah di tangan!!
Mari kita melakukan perjalanan !!! ^^

Gampang, kan? Jadi tidak usah khawatir lagi dengan keribetan-keribetan yang menakutkan saat kita dengar dari cerita orang atau blog yang pernah kita baca. Karena, tanpa mengalaminya sendiri maka kita tidak pernah tahu sampai dimana tingkat kesulitan tersebut.

Semoga bermanfat.
salam hangat,
Lisna ^^




*Next, saya akan ceritakan bagaimana bertahan hidup di Jepang sebagai Backpacker Wanita. ;)

Thursday, 7 January 2016

Pierre Tendean Di Yogyakarta

7

Bicara tentang pahlawan tampan milik Indonesia ini seperti tak mau habis dibahas, setiap hari saya rasa selalu ada penggemar yang bertambah walaupun Sang Pahlawan sudah berpulang puluhan tahun lalu.

Menjadi bagian dari penggemarnya saja saya sudah merasa bangga, tak terbayang bagaimana bangganya para keluarga dari Pierre Tendean, bahkan untuk mengenangnya saja kita bisa menemukannya di kota-kota besar di Indonesia sebagai nama jalan.

Well, tulisan ini melanjutkan dari apa yang pernah saya tulis sebelumnya beberapa tahun lalu. Bagi yang sudah berkunjung ke tulisan Paket Istimewa ke Yogyakarta, saya sempat menuliskan tentang kunjungan ke Museum Dharma Wiratama. Di museum tersebut terdapat ruangan yang berisikan koleksi dari Pahlawan Revolusi.

Di dalam ruangan yang tidak terlalu besar tersebut terdapat foto-foto Pahlawan revolusi saat baru pertama kali diangkat dari dalam sumur, baik yang di Jakarta maupun yang di Yogyakarta. Yang paling mengerikan bagi saya adalah melihat alat bukti yang digunakn untuk membunuh Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiono. Tak terbayang bagaimana kejinya para pembunuh-pembunuh tersebut.

Keadaan foto di dalam ruangan tersebut memang sudah tidak terlalu baik, foto yang hitam putih, serta beberapa foto sudah tampak tidak jelas karena termakan usia. Selain kondisi foto yang sudah tidak baik, fotonya sendiri juga diambil saat jenazah baru saja diangkat yang notabene kawasan Lubang Buaya saat itu adalah hutan yang penuh dengan dedaunan gugur.

Kondisi Salah Satu Jenazah Pahlwan Revolusi di Lubang Buaya Sesaat Setelah Pengangkatan dari Sumur Maut

Foto dan Baju Dinas milik Pierre Tendean
Selain foto, di ruangan tersebut juga terdapat lemari yang berisikan perlengkapan milik para Pahlawan Revolusi. Ruangan tersebut sungguh membuat saya ingin berlama-lama di depan lemari yang menyimpan koleksi para pahlawan. Tentu saja saya terpesona dengan pakaian milik Pierre Tendean yang ada di dalam lemari itu.

Kali itu adalah pertama kali saya melihat seragam Pierre Tendean, entah replika atau bukan -karena pihak guide tidak memberikan informasi yang jelas-, saya tetap merasa tidak sia-sia sudah datang ke museum tersebut. Jika tidak karena museum akan istirahat sholat jumat, saya pasti akan menghabiskan lebih banyak waktu lagi berada di dalam ruangan tersebut.

Celana Dinas dan Sepatu milik Pierre Tendean.
Setelah mengambil beberapa foto, saya akhirnya harus turut kata pemandu untuk ke ruangan selanjutnya.
Keluar dari ruangan tersebut saya merasa ingin kembali lagi ke sana, memuaskan apa yang belum saya dapat dan tertinggal di tempat tersebut. Karena saya masih ingin bertemu dengan Pierre Tendean di Yogyakarta.


Salam hangat,
Lisna ;)





Friday, 1 January 2016

Catatan Akhir Tahun yang Terlambat

1

Tidak terasa ternyata tahun sudah berganti, rasanya baru saja saya menikmati tahun 2015, dan kemudian ketika saya tersadar 2016 sudah datang. Cepat sekali.

Saya bersyukur sekali telah melewati tahun 2015 dengan baik, beberapa pencapaian sudah saya lakukan dan yang lainnya ada juga yang belum terlaksana. Karena memang seperti itu, jadi saya berpikir bahwa tahun ini harus berusaha lebih serius lagi, tentu saja dengan doa dan banyak restu.

Tahun 2015 telah mengantarkan saya pada sebuah perjalanan, bertemu keluarga baru, sahabat baru, teman-teman baru, serta idola baru yang memberikan saya motivasi baik untuk pencapaian saya selanjutnya.
Tahun dimana saya bertemu dengan orang-orang hebat dari dalam maupun luar negeri yang memberikan respon positif pada saya. Berkenalan dengan banyak orang yang sempat singgah ke blog saya dan lalu menjadi teman cerita yang menyenangkan dalam berbagi pengalaman yang sama serta bertukar cerita tentang sebuah peristiwa.

Di tahun 2015 juga banyak mimpi-mimpi singkat saya yang tanpa saya duga menjadi sebuah kenyataan yang sangat amat berkesan. Terkadang semua seperti mimpi, tapi di sisi lain saya merasa sangat beruntung dan berbahagia.

Selain hal-hal menyenangkan, ada juga beberapa hal yang membuat saya merasa harus berusaha lebih baik lagi dan menjadi pribadi yang bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang tidak diinginkan. Tentang kehilangan orang-orang tersayang, juga tentang pengkhianatan dari sebuah persahabatan, 

Kita tidak pernah tahu hal-hal seperti apa yang akan datang, menetap, dan pergi menghilang dari hidup kita. Saya harus lebih banyak belajar lagi tentang bagaimana menjadi lebih baik hari demi hari. Mengambil setiap pelajaran yang tersirat dari setiap peristiwa yang saya lewati. 

Tahun ini tolong bantu saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik, saya juga akan melakukan hal terbaik untuk bisa bermanfaat bagi sesama. Jika saya sudah mulai menjadi orang yang menyebalkan, tolong koreksi saya. Semoga tahun ini akan lebih banyak lagi impian-impian baik yang terwujud, tentang segala harapan yang belum tercapai semoga akan ada jawaban di tahun ini, Untuk segala rencana-rencana yang tertunda semoga tahun ini akan dimudahkan jalan untuk melaksanakannya.

Terimakasih sudah menjadi bagian dari cerita saya, menjadi pendukung saya untuk terus bisa menjadi teman yang baik. Untuk tulisan-tulisan saya yang tidak berkenan, saya juga mohon koreksinya - saya akan memperbaikinya- .

Semoga tahun 2016 adalah tahun dimana doa-doa kita terjawab dengan segera.


Salam hangat,
Lisna ;)