Showing posts with label Pierre Tendean. Show all posts
Showing posts with label Pierre Tendean. Show all posts

Monday, 25 September 2017

Kapt. Pierre Tendean

10

Ia gugur mempertahankan Pancasila - Perwira Ganteng, suka mbanjol banjak gadis ketjantol.


Djakarta, (Yudha Minggu) --- Tahun 1965 saja menjadi Empu.", demikian antara lain pesan Letdjen G.P.H. Djatikusuma, dalam perpisahan antara beliau dengan Para Perwira Corps Zeni A.D, di Aula ZIBANG, tanggal 19 Oktober 1965, berhubung dengan keberangkatan beliau untuk memangku jabatan yang baru, sebagai Komandan Political Combat Outpost di Rabbat, Marocco, sebagai Dubes, dalam rangka pengganyangan NEKOLIM.


"Kerisnya Nogososro, pamornya sengkelat, ya saya seperti Empu Supodrijo, Empu Djokosuro, seperti empu lainnya. Kerisnya antara lain: Kapten Zeni Anumerta Carmel Napitupulu, yang gugur di Irian Barat sewaktu TRIKORA yang lalu. Kapten Zeni I Gde Awet yang didrop di Merauke, sekarang masih ada. Lettu Ibrahim Saleh, yang membuat tentara Inggris dan Australia tidak berani di jalan sembarangan karena takut ranjaunya. Lettu Karsun, yang membuat jalan baru di Kalimantan Barat. Dan yang terakhir ini Kapten Anumerta Pierre A. Tendean, gugur sebagai Pahlawan Revolusi, mempertahankan Pancasila."


Demikianlah Kapt. Czi Anumerta Pierre A. Tendean, salah satu daripada banyak keris-keris yang ditempa di Akademi Militer Jurusan Teknik, di Panorama Bandung. Sebagai perwira remaja, membuktikan bahwa dirinya ikut andil besar dalam penyelesaian Revolusi ini. Bahwa ia ikut menjadi landasan dari Revolusi 45 yang kita pertahankan ini.


Mari kita mengungkap sedikit kehidupan Kapten Pierre Tendean tersebut.
Ayahnya, Dr. Tendean, putra Minahasa, kini menetap di Semarang.
Capt. An. Pierre memilih karier militer untuk masa depannya. Dari semula ibu dan ayahnya menghendaki supaya ia sekolah di Universitas atau di Akademi lain. Mulai Basic Training, ayah dan ibunya berkali-kali menulis surat supaya pindah saja dari awal ke sekolah lain. Tetapi Taruna Pierre bercita-cita keras untuk menjadi prajurit. Demikianlah ia tidak mau pindah dan bertekad untuk tetap di Akademi Zeni A.D ( nama dari Akademi waktu itu).

Dalam permulaan pendidikan, Taruna Pierre telah merebut hati para rekannya, mendapat nama baik di antara teman seangkatannya, juga dari para seniornya. Sebagai seorang calon perwira dia dapat memegang teguh martabat keperwiraannya, tetap memiliki militansi yang tinggi.

Dalam hal pendidikan di Akademi ini, dalam hal mata pelajaran Civil Technik, dia termasuk dalam golongan yang cukup baik.

Kombinasi antara karakter dan kecerdasan otaknya inilah yang menyebabkan atasan memilih dia sebagai Komandan Batalyon, Taruna Remaja. Tugas ini dilaksanakan dengan baik sekali. Beban ini masih ditambah dengan jabatannya sebagai Wakil Ketua Senat Corps Taruna. Teman-temannya mempercayakan dia dalam tugas-tugas Pembinaan Corps.

Meski Taruna Pierre sibuk dengan tugas-tugas kedinasan dan Corps, masih sempat juga Taruna Pierre meneruskan hobbynya dalam olah raga. Sebagai pemain basketball dan volley, dia ikut mempertahankan nama baik Akademi Zeni dalam hal olah raga, misalnya dalam pertandingan-pertandingan Pekan Olah Raga Mahasiswa, PORAKTA, pertandingan antara kesatuan-kesatuan militer, dan pertandingan-pertandingan lainnya. Segala aktivitas ini dijalaninya dengan tangkas dan semua sukses.


Taruna Pierre, orangnya ganteng, tinggi, atletis potongannya, simpatik. Banyak Mojang Priangan  menamakan dia Robert Wagner dari Panorama, dan banyak gadis-gadis mengusiknya, bila dia memimpin parade Taruna pada setiap perayaan hari besar. Rasa simpatik ini terutama tidak tertuju pada keadaan fisiknya, tetapi tertuju pada tingkahlakunya, kesederhanaannya, sopan santunnya, karakternya yang baik, dan satu hal lagi yang khas dari Taruna Pierre adalah selera humornya. Dalam kegiatannya sehari-hari penuh humor. Baik waktu berkumpul maupun dalam tugas-tugas yang berat sekalipun selalu diselinginya dengan humor.


Kata-kata humornya yang  mengena di antara kawan karibnya antara lain: " Hubungan antara Taruna Akmil Djurtek dengan para mahasiswa FKIP Bumi Siliwangi harus dipererat. Harus dipupuk terus. Sebab meneruskan tradisi dari kakak-kakaknya, ialah demikian menggondol Ijazah Akademi sekaligus menggondol gadis FKIP. Meskipun putri-putri itu belum lulus sekalipun, terus saja dibawa pergi untuk kawin."

Tentang kehidupan pun dia memiliki humor lain:

" Hidup teratur dapat dimulai setelah kawin."

" Kawin tanpa cinta juga boleh, cinta setelah kawin adalah lumrah."

Humor yang paling nekat adalah: " Makan banyak, minum banyak, tidur banyak, tapi kerja juga harus banyak. Pokoknya semua serba banyak."




Umurnya masih sangat muda. Lahir tahun1939. Maka belum banyak tugas-tugas militer diikutinya. Tahun 1958 tugas Operasi Sapta Marga di Sumatera Barat. Pangkat masih Kopral Taruna.
Dalam Operasi Pengganyangan NEKOLIM, Operasi DWIKORA, Lettu Pierre bertugas di perbatasan, beberapa kali memimpin sukarelawan masuk daerah musuh selalu berhasil dengan selamat, tugas-tugasnya selalu berhasil. Dalam tugas-tugas tersebut banyak keadaan kritis yang dihadapinya, namun selalu dapat mengatasinya dengan segala keberaniannya dan akalnya.

Tugas di perbatasan ini ditinggalkannya karena ada tugas baru, ialah sebagai Ajudan Menko Hankam Jendral Nasution. Tugas ini dipikulnya dengan rasa penuh tanggung jawab. Dengan keberanian yang luar biasa dia menjadi tameng dari Jendral Nasution, dan ini diakhiri dengan gugurnya sebagai Pahlawan Revolusi.

Demikian Kapten ZENI Anumerta Pierre A. Tendean sebagai Perwira remaja menunjukkan kemampuannya dalam banyak tugas.


---
Ditulis lagi dengan sumber asli Berita Yudha oleh; B. Irawan cs. Lettu CZI

Thursday, 7 January 2016

Pierre Tendean Di Yogyakarta

7

Bicara tentang pahlawan tampan milik Indonesia ini seperti tak mau habis dibahas, setiap hari saya rasa selalu ada penggemar yang bertambah walaupun Sang Pahlawan sudah berpulang puluhan tahun lalu.

Menjadi bagian dari penggemarnya saja saya sudah merasa bangga, tak terbayang bagaimana bangganya para keluarga dari Pierre Tendean, bahkan untuk mengenangnya saja kita bisa menemukannya di kota-kota besar di Indonesia sebagai nama jalan.

Well, tulisan ini melanjutkan dari apa yang pernah saya tulis sebelumnya beberapa tahun lalu. Bagi yang sudah berkunjung ke tulisan Paket Istimewa ke Yogyakarta, saya sempat menuliskan tentang kunjungan ke Museum Dharma Wiratama. Di museum tersebut terdapat ruangan yang berisikan koleksi dari Pahlawan Revolusi.

Di dalam ruangan yang tidak terlalu besar tersebut terdapat foto-foto Pahlawan revolusi saat baru pertama kali diangkat dari dalam sumur, baik yang di Jakarta maupun yang di Yogyakarta. Yang paling mengerikan bagi saya adalah melihat alat bukti yang digunakn untuk membunuh Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiono. Tak terbayang bagaimana kejinya para pembunuh-pembunuh tersebut.

Keadaan foto di dalam ruangan tersebut memang sudah tidak terlalu baik, foto yang hitam putih, serta beberapa foto sudah tampak tidak jelas karena termakan usia. Selain kondisi foto yang sudah tidak baik, fotonya sendiri juga diambil saat jenazah baru saja diangkat yang notabene kawasan Lubang Buaya saat itu adalah hutan yang penuh dengan dedaunan gugur.

Kondisi Salah Satu Jenazah Pahlwan Revolusi di Lubang Buaya Sesaat Setelah Pengangkatan dari Sumur Maut

Foto dan Baju Dinas milik Pierre Tendean
Selain foto, di ruangan tersebut juga terdapat lemari yang berisikan perlengkapan milik para Pahlawan Revolusi. Ruangan tersebut sungguh membuat saya ingin berlama-lama di depan lemari yang menyimpan koleksi para pahlawan. Tentu saja saya terpesona dengan pakaian milik Pierre Tendean yang ada di dalam lemari itu.

Kali itu adalah pertama kali saya melihat seragam Pierre Tendean, entah replika atau bukan -karena pihak guide tidak memberikan informasi yang jelas-, saya tetap merasa tidak sia-sia sudah datang ke museum tersebut. Jika tidak karena museum akan istirahat sholat jumat, saya pasti akan menghabiskan lebih banyak waktu lagi berada di dalam ruangan tersebut.

Celana Dinas dan Sepatu milik Pierre Tendean.
Setelah mengambil beberapa foto, saya akhirnya harus turut kata pemandu untuk ke ruangan selanjutnya.
Keluar dari ruangan tersebut saya merasa ingin kembali lagi ke sana, memuaskan apa yang belum saya dapat dan tertinggal di tempat tersebut. Karena saya masih ingin bertemu dengan Pierre Tendean di Yogyakarta.


Salam hangat,
Lisna ;)





Thursday, 10 September 2015

Karena Rindu Pierre Tendean

50


Hi,
Terimakasih sudah mampir ke blog saya. Bisa jadi kebetulan juga mampirnya atau sengaja, tapi kali ini yang akan saya bahas (lagi-lagi) tentang Pierre Tendean. Wah, jangan bosan ya main ke blog saya, semoga bermanfaat saja, ya :)

Karena rasa rindu saya pada Kapten Pierre Tendean, alhasil saya kembali mengingat-ingat koleksi foto Pak Pierre yang masih tersimpan baik di rumah Ibu Mietzi. Foto-foto masa kecil, foto remaja, foto saat menjadi taruna, foto bersama keluarga, serta foto saat Pak Pierre duduk bersanding dengan pujaan hati di tepi Danau Toba.


Saya teringat saat Bu Mietzi bercerita tentang sebuah foto yang diambil saat Pak Pierre dan keluarga sedang berlibur di sebuah pantai di daerah Cilincing saat Pak Pierre masih duduk di bangku SMP. " Saya ingat betul waktu itu kami sedang guyon (bercanda), katanya 'Iki lho dadaku, ndi dadamu? (Ini Lho dada saya, mana dada kamu?)',", kata Ibu Mietzi sambil menirukan gaya Pak Pierre kala itu.

Ibu Mietzi juga menceritakan jaket yang terakhir digunakan oleh Pak Pierre di malam tragis itu. "Jaket yang Pierre pakai itu sama dengan punya saya yang dibelikan kembar oleh Pierre. Pierre warna biru, saya warna merah bata. Di bagian kerahnya ada bulu-bulu. Saya ingat betul jaket itu, Pierre senang sekali memakainya dan saya disuruh memakainya juga, sampai saya bilang 'Pierre Pierre, panas-panas kok pake jaket segala.'. Tapi Pierre suka sekali dengan jaket tersebut.", kenangnya.

Kakak dari Pierre Tendean tersebut juga bercerita bahwa Pierre suka sekali berkuda, bermain tenis, juga voli. Beliau juga menceritakan bahwa Pierre sering membelikan baju yang sama antara Pierre dan dirinya. Kemanapun Pierre melakukan perjalanan tugas, Pierre selalu mengirimkan foto dan kabar untuknya. Bu Mietzi juga suka sekali mendatangi acara-acara di sekolah Pierre ataupun saat Pierre menjadi taruna. "Saya suka lihat Pierre dadah-dadah ke arah saya saat dia bersama teman-temannya. Dia terlihat bahagia sekali jadi tentara.", lanjutnya.

Pada saat Pierre Tendean tinggal di Semarang, beliau juga suka bermain layang-layang. Bahkan beliau juga membuat benang layangannya sendiri. "Kata Ibu (Roos), Oom Pierre suka membuat benang layang-layang sendiri, lalu dijemur di halaman depan rumah. Biasanya halaman depan rumah akan penuh dengan jemuran benang milik Oom Pierre jika musim layang-layang.", cerita keponakan beliau yang tak lain adalah putra dari Ibu Roos.

Diceritakannya Pierre juga sempat menghadang rombongan konvoi liar saat di Semarang, kala itu Pierre terlibat dalam perkelahian dengan anggota konvoi yang menyebabkan ada bekas luka sayat di lengan Pierre Tendean. Tapi kurang paham juga tangan sebelah mana yang mempunyai tanda tersebut.

Suatu hari keponakan dari Pierre Tendean tersebut sempat penasaran dengan jam tangan yang disimpan oleh pihak keluarga. Jam tangan tersebut adalah jam yang terakhir kali ditemukan bersama dengan jenazahnya. Karena jam tersebut sudah ikut terkubur dan sudah tidak dipakai sangat lama, maka jam tersebut mati. Diam-diam oleh keponakan beliau jam tersebut dicoba-coba barangkali masih bisa hidup dan digunakan. "Saya sempat kena marah ibu karena mengubah waktu di jam tangan tersebut, karena ibu bilang jam itu mati bersamaan dengan dikuburkannya beliau". kenang sang keponakan. " Yaaa, namanya juga penasaran ya. Ibu saya marah sekali saat itu." sambungnya lagi.

Pierre Tendean juga memiliki sebuah Jeep. Suatu hari Pierre menjemput kakaknya dari Semarang di Bandara Kemayoran dengan menggunakan Jeep tersebut, ia datang bersama Ade Irma. Hari itu Ade Irma sambil menangis mendatangi Ibu Mietzi, Ade bilang Oom Pierre nakal karena tidak dibelikan es krim. Ternyata saat itu Ade Irma minta dibelikan es krim oleh Pierre Tendean, tapi karena jam istirahat toko, maka Ade belum jadi dibelikan es krim.
"Saya ingat betul Ade dibentak oleh Pierre sambil Ade terus merengek menangis. Kasian Ade. Pierre kok ya tega banget marahin Ade. Saya gak akan lupa itu.", cerita Bu Mietzi sambil melihat ke arah foto mereka berdua yang dipajang di salah satu sudut dinding rumahnya.

Bagi saya sungguh sepertinya banyak sekali cerita seru dari seorang Pierre Tendean. Saya tulis di sini karena saya tidak tau apa yang terjadi nanti jika saya lupa dengan semua kenangan yang pernah diceritakan dari keluarga Pierre Tendean. Tapi setidaknya, saya bisa membuka kembali tulisan ini jika saya rindu beliau.



Semoga memberikan manfaat yaa ..
Jika ada koreksi, saya mohon maaf dan tolong sampaikan melalui kolom komentar.
Salam hangat ;)








Wednesday, 22 July 2015

We Never Know What Will Happen

16

Kata-kata itu yang selalu terulang-ulang dari mulutnya. Walau usianya sudah hampir seabad, tapi pesona dan ingatannya tentang masa lalu masih memancarkan semangat yang tak redup.

Pagi itu setelah selesai segala urusan saya di kota tersebut, saya berniat untuk segera kembali ke Jakarta. Tapi seperti ada rasa penasaran ingin berjalan lebih jauh lagi mengingat jalanan pagi yang masih lenggang dan udara yang masih sejuk hangat. Berhubung Ramadhan dan sendirian, saya tak dapat berkuliner pagi di sana.

Tak sulit untuk sampai di tempat yang lama sudah ingin saya kunjungi.Ternyata ada dua orang warga yang dengan senang hati mengantarkan saya menemui empunya rumah, mereka juga sempat bercerita bahwa sering ada anak-anak atau orang dewasa main dan bertamu di rumah tersebut untuk bermain gamelan, menari, atau bercengkrama dengan si pemilik rumah. Senangnya diantar oleh orang yang sering datang ke rumah tersebut.

Setelah dibantu untuk mengetuk pintu pagar, tak lama keluarlah empunya rumah yang sudah sangat penasaran sekali ingin saya ketahui keadaannya. Ah, dia menyambut baik rupanya. Ibu Mitzie !!! Saya sempat tertegun melihat keadaannya yang benar-benar masih dalam keadaan segar bugar. Rambutnya hitam pendek, kulitnya putih khas Eropa parsial, matanya biru ke-abu-abuan, dan garis di wajahnya masih menyisakan pesona kecantikan yang beliau miliki sampai di usianya saat ini. Beliau menyapa dua orang yang mengantar saya dengan menggunakan Bahasa Jawa.

" Lho iki sopo iki? Kamu orang dari film itu , yaa?", beliau bertanya kepadaku. Saya jelaskan bahwa saya hanya ingin datang berkunjung melihat keadaan beliau dan bercerita tentang kerinduan pada adiknya, Pierre Tendean. Saya memperkenalkan diri dan bersenda gurau menggunakan Bahasa Jawa dengan Ibu Mitzie, gaya bahasanya santai dan tidak kaku. Seperti telah mengenal lama dengannya, lalu Ibu mempersilakan saya masuk untuk melihat-lihat halaman rumahnya.

Berkeliling di halaman rumahnya yang besar seperti kembali ke masa lampau, dengan latar bangunan khas Belanda dan rimbunnya pepohonan. Terdapat juga kolam ikan koi lengkap dengan air mancur. Setelah berkeliling, ibu masuk untuk berganti pakaian lalu menyambut saya di beranda depan rumahnya. Ibu Mitzi menjelaskan tentang bangunan rumahnya, Bangunan Belanda yang sudah menjadi cagar budaya, sering dijadikan tempat untuk pengambilan gambar atau film.

Saya tidak menyangka dapat sambutan begitu hangat dari beliau, walaupun saya tahu pasti bahwa ia tidak mengenal saya dengan baik, dan bahkan ini adalah kali pertama kami bertemu. Dari beranda saya dapat melihat banyak foto-foto dari Pierre Tendean terpajang di dinding rumahnya. Hal tersebut membuat saya tak sabar ingin segera masuk ke bagian dalam rumahnya.

Foto di dinding dalam rumah.

Foto di dinding dalam rumah.

Foto di dinding dalam rumah.


Ibu sangat bersemangat dalam bercerita, sepertinya beliau memang orang yang ramah terhadap siapapun. Setelah memasuki pintu rumahnya, beliau senang sekali menceritakan tentang foto-foto yang beliau pajang. Ungkapan kekaguman saya tak henti-henti terlontar saat memandang foto-foto yang masih dalam keadaan bagus. Berkali-kali ia bilang "Mesak ake, ya? ( kasian, ya), yah begitu.". Masuk ke dalam rumahnya seperti memasuki sebuah museum. Bangunan dengan langit-langit tinggi, pintu dan jendela khas bangunan tempo dulu, serta lantai marmer yang ia ceritakan didatangkan langsung dari Italia pada abad ke-18.


Bagian dalam rumahnya seperti sebuah lorong, di sebelah kanan ada pintu untuk masuk ke ruang tamu dengan kursi ukir dan pajangan-pajangan, saya dipersilakan masuk dan melihat-lihat foto yang ada di ruangan tersebut. Foto keluarga, foto pernikahan beliau, foto Pak Pierre, sampai foto pernikahan putra semata wayangnya.

Bertemu dengan pelaku sejarah membuat saya betah berlama-lama bercengkrama dengan Ibu Mitzie, tak segan ia menceritakan kehidupan pribadi dari sang adik sampai koleksi foto-foto unpublished yang menurut saya tak cukup waktu untuk menceritakan semua susunan gambar yang sudah tertata rapi di album tersebut. Koleksi fotonya banyak sekali, dari masa anak-anak hingga dewasa yang dibuat seperti buku perjalanan hidup. Ibu Mitzie bercerita bahwa sebagian besar dari foto-fotonya tersebut adalah kiriman dari Kapten Pierre Tendean masa itu. Senangnya beliau mengijinkan saya untuk mengambil foto dari gambar yang sudah ada. Tapi sayangnya beliau berpesan untuk tidak menyebarluaskan foto-foto Pierre Tendean yang diambil bersama orang lain karena alasan menghormati pihak lain tersebut.

Saya selalu terpukau dengan cerita dari Ibu Mitzie, kami bercerita seakan teman lama sekali yang sedang bertemu rindu (sok akrab deh :p). Tanpa diminta ibu juga mengeluarkan koleksi lainnya yang masih ia simpan dari Pak Pierre. Kaos berkerah, celana jeans merk LEE, juga ikat pinggang. Saya diperkenankan untuk memegangnya, memeluknya (well, ini berlebihan), juga mengabadikannya.


Celana Jeans Milik Pierre Tendean

Hanya itu saja yang dapat saya berikan untuk para pecinta yang penasaran dengan benda kenangan Pak Pierre Tendean yang saat ini masih disimpan dengan baik oleh Ibu Mitzie. Saya juga tidak tahu apakah saya dapat izin untuk mempublikasikan lebih banyak jika berkesempatan mengabadikan gambar beliau lagi. We never knew what will happend, right?. Tapi semoga beliau berkenan dengan foto yang saya share kali ini. Karena memang foto-foto Pierre Tendean yang saya share di sini sudah pernah ada di majalah-majalah tempo dulu yang sudah terbilang rare untuk kita temukan saat ini.

Disela-sela bercerita Bu Mitzie banyak berpesan salam bahasa Jawa campur Inggris, "You ojo melu-melu, ya? Be careful of yourself, don't really trust with everyone. Wes wes pokoke ojo melu-melu."
Tanpa terasa hari semakin siang dan saya tidak akan membuatnya kelelahan dengan tamu tak diundangnya. Saya berpamitan, tetap terulang-ulang kata-kata dari bibirnya,"Ojo melu-melu, ya. We never knew what will happen."

Sebenarnya masih ingin berlama-lama mendengar ceritanya, tapi hari semakin siang dan saya tidak akan mengganggu waktu istirahat siangnya. Diantarnya saya sampai dibukakan pintu gerbang, pintu yang selalu ditutup rapat-rapat dan hanya beliau sendiri yang tinggal di dalamnya. Seperti ingin mengasingkan diri dari perjalanan masa. Saat berpamitan beliau masih saja berpesan untuk berhati-hati. Saat saya berjalan menjauh dari gerbangnya, saya mencoba untuk menoleh, dan ternyata Ibu Mitzie masih menatap saya dari depan gerbangnya. Sampai saya berada di ujung jalan, saya lihat pula bayangannya menghilang.
Sungguh terbayar rasa sejuta rindu saya terhadapnya. And you know ? We will never knew what will happen, right? ;)


Semoga Ibu sehat selalu ya ..
Salam hangat ;)






Thursday, 2 October 2014

MENGENANG PIERRE TENDEAN (Part.II)

5

Membahas tentang Pierre Tendean memang seperti tidak ada habisnya. Setiap hal dari beliau pastilah menjadi sebuah cerita yang menarik bagi saya. Untuk mengenangnya, saya akan menuliskan apa yang pernah saya baca dari sebuah sumber bacaan yang sudah cukup lama, dan mungkin sudah sangat sulit untuk di dapat.


Beruntung saya mempunyai teman yang mau berbagi segala hal tentang Pierre Tendean, yang beritanya dikumpulkan, lalu bisa diceritakan ke siapapun yang mengagumi sosok Pahlawan Revolusi termuda tersebut. Dan teman saya Yulia masih menyimpan sebagian info dari Majalah Intisari terbitan tahun 1989. Berikut adalah beberapa info yang bisa saya bagikan. :)




Hampir kebakaran

Pada suatu hari Natal kami berdoa sebelum bersantap. Ketika itu pohon terang belum dihiasi lampu-lampu listrik seperti sekarang, tetapi lilin-lilin dengan alas yang dijepitkan pada daun-daun pohon terang.

Rupanya karena doa kami yang berkepanjangan, lilin-lilin itu sudah keburu habis sebelum doa kami selesai. Kebetulan Pierre mengetahui hal itu. Karena kami pernah dimarahi ayah ketika ketahuan membuka mata saat berdoa. Pierre hanya berani menyenggol-nyenggolkan siku lengannya ke lengan saya untuk memberi tahu ada yang tidak beres. Tetapi saya juga takut dimarahi ayah. begitu doa selesai kami bukan menyerbu hidangan yang tersedia, tetapi memadamkan api yang sudah mulai menjalari pohon terang. (Roos Jusuf Razak)





Bereskan sesuai dengan sikon..

Melalui seorang dokter, Mitzi mengetahui bahwa Pierre mengalami juga penyiksaan yang luar biasa, "Selain bagian depan kepala yang menganga sepanjang beberapa sentimeter, kemaluan Pierre juga dipotong," katanya.


Kemudian diketahui bahwa penculik Pierre adalah Pelda (pembantu letnan dua) Djahurup dan Idris dari Cakrabirawa. Menurut Mitzie, dalam rekonstruksi diketahui bahwa ketika ditangkap kedua tangan Pierre diikat ke belakang. Ia didudukkan di bawah pohon, sambil menunggu pasukan para penculik itu berkumpul dan kendaraan pengangkut tiba. Setelah dinaikkan ke kendaraan militer itu Pierre ditelungkupkan dan diijak-injak.

Rekonstruksi Penculikan Lettu Czi. Pierre Tendean
Menurut si pelaku, sesampai di Lubang Buaya Pierre mengatakan bahwa ia hanya penjaga diesel di rumah Jenderal Nasution, namun siapa yang mau percaya jika melihat penampilan Pierre.

Dalam sidang, komandan Pasopati di Lubang Buaya, Mayor Gatot Sukrisno dari PGT (AURI), pada waktu itu masih menanyakan kepada Senko (Sentral Komando) di Gedung Penas (Jakarta-Timur) akan diapakan tawanan yang satu dan masih hidup ini (maksudnya Pierre Tendean). Jawaban yang datang berisi perintah untuk membereskan sesuai dengan situasi dan kondisi. Artinya, bunuh semua. Tetapi sebelum jawaban itu sampai, Pierre sudah dibunuh lebih dulu. "Meskipun pangkat saya lebih tinggi dari pangkat Djahurup, tetapi waktu itu yang namanya Cakrabirawa lebih berkuasa dan ditakuti," jawab Gatot Sukrisno, ketika kepadanya diajukan pertanyaan mengapa ia kalah pengaruh terhadap Djahurup, yang cuma pembantu letnan dua.

Menurut keterangan, Pierre ditembak oleh tiga orang. Ketika ia jatuh ke depan dan belum juga meninggal, Djahurup-lah yang kemudian membereskannya dengan melepaskan tembakan terakhir. Tindakan ini dilakukannya karena rupanya ia merasa gagal dalam tugasnya 'membereskan' Jenderal Nasution, meskipun putri Pak Nas, Ade Irma Suryani, telah menjadi koraban juga. Jadi ia tak akan melepaskan tawanannya seorang pun.

Dalam Buku Memenuhi Panggilan Tugas, Jilid VI, Jenderal (Purn.) A.H Nasution menuliskan: "Menurut pengakuan anggota PGT Suprapto dan Suwandi yang juga di rumah Pak Basar, melihat kedatangan dua tawanan yang diikat tangan dan kakinya disiksa dengan kejam, kepalanya dipukul dengan senjata hingga lukanya menganga. Menurut Suparmo, anggota Pemuda Rakyat (PR), kedua tawanan tersebut waktu datang masih sadar dan disuruh jalan sendiri, kemudian dimasukkan ke kamar piket. Pierre disiksa terakhir dan harus menyaksikan penyiksaan dan gugurnya para jenderal. Secara beramai-ramai anggota Cakra, PGT, dan PR menyiksa Pierre, karena dialah yang paling gigih hendak melawan.

Anggota Cakrabirawa Supandi, dalam pengakuannya mengatakan bahwa ia telah melihat Pierre disuruh jongkok dan empat kali ditembak dari belakang, kemudian diseret ke sumur. Badannya penuh berlumuran darah."
"Konon para penyiksa itu diberi suntikan dulu, sehingga mereka tidak mengenal rasa takut," Mitzi memberi penjelasan.


Yuhu, itu dia yang bisa saya share dalam tulisan kali ini. Lain kali jika ada hal-hal seru lainnya pasti saya share lagi di sini. Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat.

Salam hangat ;)

Wednesday, 1 October 2014

MENGENANG PIERRE TENDEAN (Part. I)

4



Seandainya Pierre Tendean masih hidup, tahun ini usianya genap lima puluh tahun. Namun nasib menghendakinya lain. Ia meninggal dalam usia relatif muda. Kakaknya, Ny. Mitzi Farre dan adiknya, Ny. Roos Jusuf Rajak, tetap menyimpan berbagai kenangan. Antara lain bahwa Pierre Tendean pernah menjadi pengemudi traktor.(Intisari,1989)











 Reuni SMA di Jakarta.. Seperti umumnya reuni, banyak sekali kenangan manis yang terungkap. Dalam kegembiraan itu saya juga bertemu dengan teman-teman Pierre dan tiba-tiba saya merasa sedih. Seandainya Pierre masih ada ... Tapi Pierre sudah lama pergi dan namanya kini dipakai untuk nama jalan.




Ulang Tahun Ibu

Tanggal 30 September adalah hari ulang tahun ibu kami. Beberapa hari sebelum tanggal 30 September 1965 Pierre memberi tahu ia tidak bisa pulang ke Semarang untuk merayakan hari itu bersama seluruh keluarga, karena ia harus bertugas sampai siang hari. Pierre adalah seorang ajudan Jenderal A.H Nasution. Ia berjanji akan pulang bersama suami saya keesokan harinya, tanggal 1 Oktober 1965.

Tanggal 1 Oktober 1965, ketika suami saya datang menjemput ke rumah Pak Nas di Jl. Teuku Umar, ia heran sekali karena ternyata banyak tentara berjaga-jaga. Suami saya bahkan ditodong dengan senjata ketika memasuki rumah Pak Nas. Pierre tidak ada. Kata salah seorang penjaga, Pierre dan Pak Nas sedang pergi bertugas. Jadi suami saya pun pulang sendiri ke Semarang.

Begitu penuturan Ny. Roos Jusuf Razak, adik Kapten Anumerta Pierre Tendean.

Ternyata hari itu terjadi suatu kudeta oleh PKI, yang kemudian dikenal sebagai G30S/PKI. Beberapa orang jenderal, dan juga Pierre, menjadi korban keganasan mereka. Berikut ini cerita kakak Pierre, Mitzi.

Sementara itu kami sekeluarga di Semarang tentu saja resah, karena Jenderal Nasution merupakan salah seorang yang diincar oleh manusia-manusia haus darah itu. Saya berusaha mencari informasi ke sana-ke mari.

Pada tanggal 2, 3, dan 4 Oktober radio mulai menyiarkan secara lebih jelas apa yang sebenarnya telah terjadi. Menurut berita, yang menjadi korban tujuh orang. Salah satu di antaranya adalah Lettu CPM Pierre Tendean. Walaupun nama adik saya disebut, saya masih belum yakin 100%, karena adik saya bukan dari CPM, tetapi Zeni.

Tak lama kemudian, telepon berdering. Jenderal Suryo Sumpeno mengabarkan Pierre sudah tiada. Meledaklah tangis kami.



Makan Gaplek

Adik saya, Pierre Andries Tendean, lahir pada tanggal 21 Februari 1939 di CBZ (sekarang RS. Cipto Mangunkusumo). Saya senang memperoleh seorang adik, karena berarti saya mempunyai teman setelah lima tahun bermain sendiri.

Di Jakarta kami tidak tinggal lama, karena ayah seorang dokter, ditugaskan di Tasikmalaya untuk membantu memberantas penyakit malaria. Di sini ayah jatuh sakit. Meskipun belum sembuh betul, ayah bersama keluarganya dianjurkan pindah ke Cisarua. Kemudian ia dirawat di Sanatorium Cisarua. Setelah sembuh ayah diminta untuk bertugas di sana sebagai dokter.

Pada masa inilah saya menyimpan banyak kenangan indah bersama Pierre. Rumah dinas yang kami tempati terasa sangat menyenangkan, dikelilingi gunung, sawah, dan halaman luas yang banyak ditumbuhi pohon murbai dan ceri.
Kalau padi menguning dan musim panen tiba, saya dan Pierre senang bermain-main di sawah. Dari batang padi yang sudah dipotong kami membuat sempritan.

Kemudian ayah dipindahkan ke Magelang, menjabat wakil direktur RS Keramat. Tak lama kemudian Jepang masuk. Kehidupan kami pun semakin sulit. Karena beras sangat mahal, terpaksa kami makan gaplek atau tiwul.

Sebagai kanak-kanak tentu saja saya dan Pierre belum mengerti arti susah yang sebenarnya, Tempat tinggal kami di Magelang juga hampir mirip dengan tempat tinggal kami di Cisarua. Di sini dilatarbelakangi Gunung Sumbing. Kami bisa main sepuas-puasnya, main perahu sampai berkubang di lumpur, piknik ke kebun kopi milik rumah sakit, dan mandi-mandi di pancuran. Semakin dilarang, Pierre semakin tidak mau meninggalkan sungai itu.

Pierre yang waktu itu masih duduk di SD sudah memperlihatkan sifat tanggung jawabnya yang besar terhadap masyarakat di sekitarnya. Jika sedang libur, ia sering membantu kawan-kawannya ke sawah untuk mencari siput, guna menambah lauk-pauk di rumah orang tua mereka.



Berkelahi menggunakan pisau

Pierre mulai masuk sekolah rakyat di Boton, Magelang. Untuk pergi ke sekolah, kami menggunakan dokar rumah sakit (semacam mobil dinas sekarang). Jika sedang dipakai untuk keperluan rumah sakit, terpaksa kami harus berjalan kaki sejauh beberapa kilometer.

Suatu ketika sisa-sisa gerombolan PKI yang terlibat dalam Peristiwa Madiun (1948), merampok keluarga kami dan membawa ayah. Ketika melihat kesempatan untuk melarikan diri, ayah menceburkan diri ke Kali Manggis. Karena malam sangat gelap akhirnya kaki ayah tertembak dan cacat seumur hidup. Kami sekeluarga terpaksa pindah ke Semarang, karena ayah harus dirawat di RS. CBZ (sekarang RS. dr. Karyadi), sehubungan kakinya yang tertembak sampai tulangnya pecah.

Dalam mendidik anak-anaknya ayah agak keras. Kami kenyang merasakan sapu lidi, ikat pinggang, maupun sandal.

Masa SMP dan SMA dilewati Pierre di Semarang. Dalam bersekolah Pierre lancar-lancar saja dan tidak pernah tinggal kelas. Ia juga memperoleh nilai yang baik dalam bahasa Inggris dan Jerman. Hal itu mungkin karena kami selalu berbahasa Belanda di rumah. Ketika masuk SMP dia memperoleh hadiah sepeda dan waktu masuk SMA ia memperoleh sebuah sepeda motor Ducati dari ayah. Ia sangat bangga pada Ducati itu.

Sekitar tahun 1957, sebagai anak muda adik saya itu juga pernah terlibat perkelahian antar sekolah dengan menggunakan pisau, sampai ada bekas luka di tangannya. Namun, dalam bergaul Pierre bisa menerima dan diterima di segala macam kalangan. Dari anak-anak para karyawan rumah sakit dan mantri, sampai tukang becak pun jadi.





Robert Wagner dari Panorama



Selesai SMA Pierre ingin melanjutkan pendidikan ke AMN di Bandung. Saya menyokong niatnya. Sebenarnya ayah ingin putra tunggalnya itu bisa melanjutkan tugasnya sebagai dokter. Menanggapi hal itu Pierre mengatakan, "Ah, dokter itu apa. Dokter iku mung bisa nambani borok (Dokter hanya bisa menyembuhkan luka)." Sementara ibu menginginkan putra kesayangannya itu menjadi insinyur.



Untuk tidak mengecewakan kedua orang tua kami, saya menyarankan Pierre untuk mengikuti tes masuk kedokteran di Jakarta dan ITB Bandung tanpa mengerjakan soal-soalnya. Akhirnya dia berhasil masuk ke AMN. Pak Nas menyarankan agar Pierre mengambil jurusan teknik, yaitu ATEKAD, dengan pertimbangan nanti ia bisa melanjutkan ke ITB atau fakultas teknik. Hubungan keluarga kami dengan kedua mertua Pak Nas di Bandung memang sangat erat, sampai Pierre menganggap mereka mereka orang tuanya sendiri.



Sebagai taruna ia memperoleh uang saku. Kadang-kadang ia menulis surat kepada ibu, "Seandainya Mami memiliki uang belanja lebih, tolong kirimi saya, karena saya ingin membeli film."



Sebagai taruna dan olahragawan yang memiliki bentuk badan yang atletis dan roman muka yang tampan, Pierre selalu menjadi pusat perhatian para gadis ramaja. Oleh gadis-gadis Bandung Pierre dijuluki Robert Wagner dari Panorama. Robert Wagner adalah bintang film Amerika yang terkenal, sedangkan Panorama adalah nama tempat pendidikan ATEKAD di Bandung.







Pada waktu pemberotakan PRRI meletus, Februari 1958, Pierre masih menjadi taruna. Setelah mendapat latihan dasar kemiliteran dan berbagai macam teori dan kecakapan militer lainnya, ia bersama kawan-kawan seangkatannya dikirim ke Sumatra untuk menghadapi PRRI. Itu merupakan suatu latihan praktek lapangan serta pengalaman militernya yang pertama.

Tahun 1962 Pierre lulus dari ATEKAD dengan nilai sangat memuaskan. Saya sendiri menghadiri pelantikannya, Ketika Dwikora dicetuskan, segera Pierre yang berpangkat letnan dua itu ditugaskan sebagai Komandan Peleton pada Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II Bukit Barisan di Medan. Tahun 1963 ia mendapat panggilan untuk masuk Sekolah Intelijen di Bogor. Selama pendidikan itu ia ditugaskan untuk memimpin suatu kelompok sukarelawan yang akan mengadakan penyelundupan ke daerah Malaysia. Ia berhasil menyusup tiga kali. Pada penyusupan yang ketiga kalinya speedboat yang ditumpanginya bersama anak buahnya dikejar sebuah kapal Inggris. Untuk menyelamatkan diri, ia bersama anak buahnya terjun dan berenang ke arah perahu nelayan. Dengan bergantungan dan seluruh badan terbenam dalam air, akhirnya mereka bisa melepaskan diri dari sergapan musuh.


Suka sambal bajak

Ketika sering menyelundup ke Malaysia itulah Pierre sempat berbelanja. Masing-masing anggota keluarga mendapat oleh-oleh. Saya mendapat sebuah T-shirt merah biru dan raket tenis yang masih saya simpan sampai sekarang. Kami berdua memang mempunyai beberapa hobi yang sama dalam musik, film, maupun olahraga. Ayah dibelikan sebuah jam tangan dan rokok Commodore. Sedangkan untuk dirinya sendiri Pierre membeli sebuah jam tangan, jaket, dan pakaian dalam. Saya selalu ingat pesannya saat ia memberikan raket itu kepada saya, "Ojo didol, lho (jangan dijual, ya)." Barang-barang itu dibeli Pierre dengan uang sakunya. Waktu itu ia memperoleh uang saku yang lumayan besar, karena tugasnya mengandung resiko besar.

Di mana pun ia berada, Pierre selalu menyempatkan diri untuk mengirim surat, baik kepada orang tua kami, maupun saya dan adiknya.

Dalam sebuah surat Pierre menceritakan bahwa ia selalu dijadikan penerjemah oleh atasannya kalau ada tamu dari kapal asing di Pelabuhan Belawan, " Waktu-waktu begitu aku selalu bisa makan enak." ceritanya.

Jika kebetulan sedang libur Pierre selalu menyempatkan diri pulang ke Semarang. Jika tahu Pierre akan pulang, ibu selalu sibuk menyediakan makanan kegemarannya yaitu kue sus, sirup manis, ayam panggang, dan sambal bajak, sampai-sampai semasa masih di ATEKAD ia selalu minta dikirimi kalau ada kenalan yang kebetulan ke Bandung.


Jadi pengemudi traktor

Pada saat itu Pierre sudah tahu bahwa ia akan dijadikan ajudan Pak Nas menggantikan Kapten Manulang yang gugur dalam menjalankan tugasnya di Kongo. Ibu merasa senang. Soalnya, selama ini ia tidak pernah bisa tenang memikirkan putranya ini, yang sering tidak diketahui tempat tugasnya. Dari keempat ajudan Pak Nas, Pierre-lah yang termuda.

" Pierre Tendean adalah seperti adik kandung bagi saya dan istri saya. Mungkin sekali karena pengaruh sayalah ia menjadi taruna, karena orang tuanya sebenarnya semula tidak setuju. Ia tinggal di rumah saya sebagai salah seorang anggota keluarga biasa," tulis Jenderal (Purn.) A.H Nasution dalam Buku Memenuhi Panggilan Tugas. Jilid VI.




Berlawanan dengan ibu, Pierre merasa lebih suka bertugas di lapangan. Maka ia pun mengajukan syarat, " Aku cuma mau bertugas sebagai ajudan selama setahun. Tidak lebih. Kalau diperpanjang, aku akan menghadap Kasad (yang waktu itu dijabat oleh Jenderal A. Yani) untuk minta pindah." katanya. Ternyata Pierre harus bertugas enam bulan, ketika peristiwa yang merenggut nyawanya itu terjadi.

Pada waktu menjadi ajudan Pak Nas, Pierre berpangkat letnan satu. Untuk menambah gajinya, setiap malam ia menjadi pengemudi traktor di Monas untuk meratakan tanah jadi satu. Waktu itu Monas belum jadi. Dan hasilnya, Pierre ingin memiliki TV yang sudah dipesannya. Waktu itu barang masih sulit diperoleh, sehingga harus pesan dulu kalau mau beli.



"Aku titip adikku, Mas."

Waktu adik saya menikah dengan Jusuf Razak, Pierre memberikan uang dibungkus dengan koran kepada ibu, " Mam, ini sumbangan saya untuk pernikahan Roos," katanya. Uang itu rupanya gaji yang dikumpulkannya selama tugas Dwikora. Dari dolar, uang itu dirupiahkannya, sehingga kelihatan banyak.


Jika ingat waktu menikah, Roos selalu ingat pada saat ia saling berpandangan dengan almarhum.

Ada satu hal yang tidak pernah bisa saya lupakan pada waktu pernikahan saya itu. Sebagai kakak tentu saja Pierre menasehati saya. Ia juga menanyakan apakah saya memang sudah siap untuk berumah tangga. Saya menikah pada tanggal 2 Juli 1965. Ketika harus menandatangani surat nikah, Pierre menangis memeluk saya dan saya pun menangis di dadanya. Untuk beberapa saat saya tidak sanggup menandatangani surat nikah itu. Kepada suami saya ia mengatakan, "Mas, aku titip adikku dan tolong jaga dia." Itulah terakhir kalinya saya bertemu dengan Pierre.

-Mitzi, kakak Pierre masih sempat bertemu adik laki-lakinya sebulan sebelum peristiwa berdarah itu terjadi.-

Pada waktu itu saya akan kembali ke Semarang dan Pierre mengantar saya ke Stasiun Gambir. Ketika dia mencium saya, pipinya terasa dingin, karena waktu itu masih pagi. Pierre  menggunakan celana hijau dari bahan teteron dengan kemeja berwarna kecoklatan. Saya tak akan pernah melupakan lambaian tangannya ketika kereta yang saya tumpangi bergerak menjauh. Rupanya itulah lambaian tangan terakhir sebagai tanda perpisahan kami selama-lamanya. Namun, melaui telepon kami masih sempat berhubungan satu kali lagi.

Menurut penuturan seseorang, pada petang hari tanggl 30 September itu Pierre masih sempat melihat sebuah pavilyun yang akan dikontrakkan di Jl. Jambu. Waktu itu ia sudah merencanakan untuk berumah tangga, Pierre memang sudah lama menjalin cinta dengan seorang gadis Jawa yang besar dan tinggal di Medan. Gadis itu dikenalnya ketika ia bertugas di sana.

Mengenai hubungan cintanya Pierre menulis surat kepada saya dalam bahasa Jawa, " Mitz, aku wis ketemu jodoku. Wis yo Mitz, dongakake wae mugo-mugo kelakon (Mitz, aku sudah menemukan jodohku. Sudah doakan saja mudah-mudahan tercapai)."

Ketika bertugas tanggal 31 Juli 1965 ke Medan mengikuti perjalanan Pak Nas, Pierre menyempatkan diri menemui kekasih dan calon mertuanya. Dalam pertemuan diputuskan bahwa pernikahan mereka akan dilangsungkan pada bulan November 1965.

Sebenarnya ada hal ganjil yang tidak pernah dilakukan Pierre. Selama ini siapapun yang berulang tahun, dia selalu menyempatkan diri untuk menelepon, jika ia terhalang tugas. Tapi pada tanggal 30 September itu ia tidak menelepon untuk mengucapkan selamat kepada ibu.



Seluruh makam ditutupi anggrek

Setelah diangkat dari sumur di Lubang Buaya dan dibersihkan, jenazah para Pahlawan Revolusi itu dikirim ke RS Gatot Subroto dan kemudian disemayamkan di Markas Besar Angkatan Darat di Jl. Merdeka Utara. Pada tanggal 5 Oktober pemerintah mengirimkan pesawat untuk menjemput keluarga kami di Semarang.

Ketika melihat peti jenazah putranya, ibu menangis dan meratap, " Pierre.. Oh Pierre, mijn jongen, wat is er met jouw gebeurd?" (Pierre, Oh Pierre, anakku, apa yang terjadi dengamu?) ".

Setelah Pierre tiada, gairah dan kesehatan ibu semakin menurun. Dari pemeriksaan medis ternyata kemudian diketahui ibu mengidap kanker. Ia tidak pernah bisa menerima kenyataan bahwa putra tunggalnya itu sudah tiada.

Jika ada penyesalannya datang, ia selalu mempersalahkan saya, saya yang dulu menyokong keinginan Pierre untuk menjadi tentara. Begitu besar rasa kehilangannya, sehingga ibu sering membaca surat-surat yang pernah dikirimkan Pierre semasa belajar di Bandung maupun setelah bertugas. Semua surat itu dikumpulkan dan diurutkannya sesuai tanggalnya.

Keadaan ayah juga tidak jauh berbeda, tapi ia lebih bisa menguasai diri dan berusaha untuk menghibur ibu.

Pada awal sakit ibu masih sempat ke Jakarta untuk berziarah ke makam adik saya terakhir kali. Dari petugas Taman Makam Pahlawan Kalibata kami mengetahui bahwa waktu itu ibu memborong bunga sebanyak-banyaknya sehingga seluruh makam Pierre tertutup dengan anggrek.



"Pierre, aku sudah tidak tahan lagi."

Sekembali ke Semarang kesehatan ibu makin mundur. Pada pertengahan Agustus ibu harus di rawat di RS. Elizabeth.

Suatu ketika, pada waktu adik saya sedang menunggunya, ibu berkata seakan-akan di hadapannya hadir putra kesayangannya itu, "Pierre, ik houd het al niet meer uit (Pierre, aku sudah tidak tahan lagi)," Pada tanggal 19 Agustus 1967 ibu menghembuskan napasnya yang terakhir.

Jauh-jauh hari, ibu sudah berpesan, "Jangan lupa ya, kalau aku meninggal, tolong jenazahku ditutupi dengan selimut yang pernah dipakai Pierre." Maka ketika waktunya tiba, pesan itu kami jalankan. Pada tanggal 19 Juli 1974 ayah pun menyusul ibu dan adik saya.

Setelah kedua orang tua kami meninggal, saya dan adik saya masih rajin menziarahi makam Pierre di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sekitar makam Pierre kami tanami pohon palem yang tumbuh rimbun. Ketika kemudian ada larangan membedakan makam di situ dari yang lain, saya membawa pulang pohon palem dari makam Pierre dan saya tanam di kebun rumah saya di Bogor. Pokoknya, semua yang pernah menjadi milik Pierre akan kami simpan sebagai kenang-kenangan.


Sumber : Majalah Intisari edisi September 1989, koleksi Yulia Sjahriani Harahap
Foto     : Ibu Ita W 


Semoga bermanfaat, terimakasih.

Salam hangat ;)

Thursday, 4 September 2014

Rumah Keluarga Pierre Tendean di Semarang

37


Beberapa waktu lalu saat berkesempatan ke Semarang, hal terakhir yang saya sempatkan untuk datangi adalah rumah dari keluarga Pierre Tendean. Dari buku-buku yang pernah saya baca, lokasi rumah tersebut berada di Jl. Imam Bonjol. Berbekal pada penuturan Ibu Rooswidiati dalam Buku Kunang-kunang Kebenaran di Langit Malam, maka tujuan saya jelas, Jl. Imam Bonjol No. 172.





Dari informasi yang saya dapat, rumah keluarga Pierre Tendean di Semarang berbentuk bangunan lama dengan pilar tinggi khas seperti pada gedung-gedung tempo dulu, tetapi rumah tersebut sudah dijual kepada pihak lain. Jadi kemungkinan bentuk aslinya sudah berubah.

Waktu saya untuk sekedar mencari tahu gedung bernomor 172 di Jl. Imam Bonjol itu tidak lama, karena kereta yang saya gunakan untuk kembali ke Jakarta akan berangkat satu jam lagi. Awalnya berniat jalan kaki sambil menikmati jalanan kala sore hari di kota yang Pierre Tendean pernah tinggalkan jejaknya, pernah juga dihirup oksigennya, serta mungkin sedikit bangunan-bangunan yang belum berubah dari masa Pierre Tendean hidup kini menjadi saksi bisu bahwa pahlawan yang harum namanya tersebut pernah melenggang melalui hadapannya. Tapi karena waktu tidak memungkinkan, maka saya naik becak dan langsung minta diarahkan ke rumah no.172 di jalan tersebut.

Ternyata Jl. Imam Bonjol lumayan panjang, dan saya beruntung memutuskan untuk mbecak. Kondisi jalan yang ramai serta pepohonan di kiri-kanan jalan membuat perjalanan tidak membosankan. Lalu sampailah tukang becak melaksanakan tugasnya mengantar saya di tujuan. Saya urut ulang nomor-nomor rumah di jalan tersebut. Dan benar saja, saya berdiri tepat di rumah bernomor 172 di Jl. Imam Bonjol. Rumah yang alamatnya saya dapat dari buku. Tapi bentuk bangunan tersebut tampak benar-benar baru. Bahkan lebih tepat jika disebut kantor. Saya tidak bisa terlalu lama berada di depan bangunan ini karena kereta saya akan segera berangkat. saya harus kembali ke hotel karena pihak hotel sudah menghubungi saya.

Sayang sekali saya tidak bisa berlama-lama di sekitar rumah yang dulu ditempati oleh keluarga Pierre Tendean selama di Semarang, dan saya tidak bisa juga melihat keaslian dari bangunan yang pernah ditinggali oleh beliau dan keluarganya. Gedung tersebut kini menjadi Kantor Pelayanan Pastoral Keuskupan Agung Semarang.






Semua memang sudah berubah, tapi setidaknya saya bisa membayangkan seperti apa dulu beliau membuat benang layang-layang di halaman rumahnya, bagaimana acara penyambutan keluarga saat beliau pulang, bagaimana beliau menghadang pawai yang memang benar-benar tepat di depan rumahnya. Ah, saya suka, saya suka !! Dan jika ada kesempatan lagi, pasti saya akan kembali ke kota tersebut. 





Salam hangat ;)

Tuesday, 2 September 2014

Gara-gara Pierre Tendean.

51

Entah berapa kali dalam satu tahun saya berkunjung ke Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya. Karena termasuk dekat dari rumah, saya juga senang dengan suasana di sekitar Lubang Buaya. Jalannya masih rindang dengan banyak pepohonan, kecil dengan banyak kelokan. Udaranya juga masih segar, tidak seperti kebanyakan kawasan di bilangan Jakarta. Kadang tercium aroma embun dari pepohonan ketika matahari masih malu-malu bersinar. Sejuk, jika pernah ke sana pada saat pagi atau sore hari, pasti merasakan sensasi menuju puncak, Bogor.

Sebenarnya saya sering melewati depan Monumen Pancasila Sakti, tapi untuk memasuki gerbang besar tersebut saya tidak berani jika seorang diri. Saat malam, gerbang gagah tersebut benar-benar gelap, dengan pagar besi tinggi tegap dan pepohonan di sampingnya membuat kita tidak bisa menemukan lokasi tersebut jika jarang melewatinya. Karena memang penerangan di depan gerbang tersebut sangat kurang.

Tahun ini saya sudah empat kali berkunjung ke tempat tersebut. Itupun dengan memaksa teman untuk ikut dengan saya, mengajak adik, atau pun merayu anak tetangga untuk bisa menemani saya dengan dalih belajar sejarah :D. Bukan, ini samasekali tidak ada hubungannya dengan kontroversi yang terjadi di balik peristiwa dan dibangunnya tempat ini.
Ini semua pasti ulah rindu, rindu saya pada salah satu pahlawan yang dieksekusi di sana. Saya selalu ingin mengenangnya, bahkan dengan memasuki gerbang kokoh di depan pintu masuk Monumen Pancasila Sakti, saya sudah merasakan rindu yang segera terbayar. Menuju ke arah sumur maut, memandang lama pada tujuh Pahlawan Revolusi yang patungnya berdiri menawan. Lalu berpindah ke Gedung Paseban.

Memang semua benda terakhir peninggalan korban ada di sini, di simpan dalam lemari kaca untuk dipamerkan. Lengkap dengan segala keterangan, foto-foto, serta hasil visum. Ribuan rasa jika berada di sini, di tempat ini. Walaupun kita tidak pernah menyaksikan kejadian aslinya, tapi keterangan-keterangan yang ada sudah sangat sungguh menggambarkan kejadian yang dialami para korban.

Yaks, dan sasaran utama rindu saya ada di sini. Di depan lemari yang menyimpan peninggalan dan benda-benda terakhir yang ditemukan pada tubuh Pierre Tendean. Isi lemari tersebut sungguh sanggup membuat saya rindu untuk selalu ke tempat ini, Gedung Paseban. Entah berapa lama saya sanggup bertahan untuk berdiri di depannya yang akhirnya harus sadar bahwa saya telah memaksa orang lain untuk menemani saya ke tempat ini :D

Saya suka melihat saputangan di sakunya, saya suka dengan batu pada cincinnya. Entahlah apa yang terjadi pagi itu, tapi peninggalannya membuat saya semakin terharu. Apalagi ada tali yang digunakan untuk mengikat tangan Pierre Tendean. Tapi semua hal yang berhubungan dengannya selalu berhasil membuat saya rindu untuk selalu mengenangnya. Itulah sebabnya saya selalu berkali-kali datang ke tempat tersebut apapun alasannya. Apalagi jika rindu sudah memaksa untuk segera dibayar. Semua hal tentang Pierre Tendean selalu membuat saya semakin penasaran.

Saputangan di saku celana Pierre Tendean

Cincin bermata biru     

Tali yang digunakan untuk mengikat tangan Pierre Tendean

Pierre Tendean mengawali karirnya di bagian Zeni, sebuah unit dalam kesatuan Angkatan Darat yang menangani teknis KonstruksiDestruksiRintanganSamaranPenyeberanganPenyelidikanPerkubuan, Penjinakan bahan peledak (Jihandak), serta Nuklir-Biologi-Kimia (Nubika) pasif. Itulah sebabnya saya yakin Pierre Tendean adalah sosok pemuda yang cerdas.

Wajah rupawan Pierre Tendean adalah salah satu kelebihan yang lain. Ia keturunan Manado-Prancis. Maka, kulitnya bersih . Jelas, tidak ada yang curiga ketika ia disusupkan ke Singapura.

Tak henti saya terkagum pada keberaniannya, kesetiaannya, dan dedikasinya untuk sang Jenderal, untuk mengharumkan nama baik kesatuan di mana ia dididik, mengharumkan nama keluarga, serta Indonesia.
Bahkan peninggalan terakhirnya pun membuat saya terkagum, bisa selalu melihatnya, dekat walaupun tanpa menyentuhnya. Dan Gedung Paseban di Lubang Buaya adalah tempat yang akan selalu mengingatkan saya pada beliau. Dan semua tempat yang berhubungan dengan beliau akan selalu membuat saya membayangkan bahwa beliau  masih ada, menikmati oksigen yang sama saat saya mendatanginya, serta menatap pemandangan yang sama walaupun dalam dimensi waktu yang berbeda.

Lubang Buaya hanya satu dari sekian banyak tempat yang menjadi saksi bahwa Pierre Tendean pernah menapakkan kakinya, menghirup udaranya, serta merasakan suka duka-nya. Semoga beliau selalu dikelilingi segala kebaikannya di alam sana. Serta doa-doa para penerusnya yang selalu menginginkan kebahagiaan untuknya.

Lain kali, saya akan rindu lagi pada Lubang Buaya, serta tempat-tempat yang berhubungan dengan Pierre Tendean. Dan pastinya cerita-cerita terbaik dari pengalaman hidupnya yang selalu menarik saya untuk berkhayal seandainya saya hidup di masa yang sama. Dan semua gara-gara Pierre Tendean :D


Salam hangat ;)