Thursday, 2 October 2014

MENGENANG PIERRE TENDEAN (Part.II)

5

Membahas tentang Pierre Tendean memang seperti tidak ada habisnya. Setiap hal dari beliau pastilah menjadi sebuah cerita yang menarik bagi saya. Untuk mengenangnya, saya akan menuliskan apa yang pernah saya baca dari sebuah sumber bacaan yang sudah cukup lama, dan mungkin sudah sangat sulit untuk di dapat.


Beruntung saya mempunyai teman yang mau berbagi segala hal tentang Pierre Tendean, yang beritanya dikumpulkan, lalu bisa diceritakan ke siapapun yang mengagumi sosok Pahlawan Revolusi termuda tersebut. Dan teman saya Yulia masih menyimpan sebagian info dari Majalah Intisari terbitan tahun 1989. Berikut adalah beberapa info yang bisa saya bagikan. :)




Hampir kebakaran

Pada suatu hari Natal kami berdoa sebelum bersantap. Ketika itu pohon terang belum dihiasi lampu-lampu listrik seperti sekarang, tetapi lilin-lilin dengan alas yang dijepitkan pada daun-daun pohon terang.

Rupanya karena doa kami yang berkepanjangan, lilin-lilin itu sudah keburu habis sebelum doa kami selesai. Kebetulan Pierre mengetahui hal itu. Karena kami pernah dimarahi ayah ketika ketahuan membuka mata saat berdoa. Pierre hanya berani menyenggol-nyenggolkan siku lengannya ke lengan saya untuk memberi tahu ada yang tidak beres. Tetapi saya juga takut dimarahi ayah. begitu doa selesai kami bukan menyerbu hidangan yang tersedia, tetapi memadamkan api yang sudah mulai menjalari pohon terang. (Roos Jusuf Razak)





Bereskan sesuai dengan sikon..

Melalui seorang dokter, Mitzi mengetahui bahwa Pierre mengalami juga penyiksaan yang luar biasa, "Selain bagian depan kepala yang menganga sepanjang beberapa sentimeter, kemaluan Pierre juga dipotong," katanya.


Kemudian diketahui bahwa penculik Pierre adalah Pelda (pembantu letnan dua) Djahurup dan Idris dari Cakrabirawa. Menurut Mitzie, dalam rekonstruksi diketahui bahwa ketika ditangkap kedua tangan Pierre diikat ke belakang. Ia didudukkan di bawah pohon, sambil menunggu pasukan para penculik itu berkumpul dan kendaraan pengangkut tiba. Setelah dinaikkan ke kendaraan militer itu Pierre ditelungkupkan dan diijak-injak.

Rekonstruksi Penculikan Lettu Czi. Pierre Tendean
Menurut si pelaku, sesampai di Lubang Buaya Pierre mengatakan bahwa ia hanya penjaga diesel di rumah Jenderal Nasution, namun siapa yang mau percaya jika melihat penampilan Pierre.

Dalam sidang, komandan Pasopati di Lubang Buaya, Mayor Gatot Sukrisno dari PGT (AURI), pada waktu itu masih menanyakan kepada Senko (Sentral Komando) di Gedung Penas (Jakarta-Timur) akan diapakan tawanan yang satu dan masih hidup ini (maksudnya Pierre Tendean). Jawaban yang datang berisi perintah untuk membereskan sesuai dengan situasi dan kondisi. Artinya, bunuh semua. Tetapi sebelum jawaban itu sampai, Pierre sudah dibunuh lebih dulu. "Meskipun pangkat saya lebih tinggi dari pangkat Djahurup, tetapi waktu itu yang namanya Cakrabirawa lebih berkuasa dan ditakuti," jawab Gatot Sukrisno, ketika kepadanya diajukan pertanyaan mengapa ia kalah pengaruh terhadap Djahurup, yang cuma pembantu letnan dua.

Menurut keterangan, Pierre ditembak oleh tiga orang. Ketika ia jatuh ke depan dan belum juga meninggal, Djahurup-lah yang kemudian membereskannya dengan melepaskan tembakan terakhir. Tindakan ini dilakukannya karena rupanya ia merasa gagal dalam tugasnya 'membereskan' Jenderal Nasution, meskipun putri Pak Nas, Ade Irma Suryani, telah menjadi koraban juga. Jadi ia tak akan melepaskan tawanannya seorang pun.

Dalam Buku Memenuhi Panggilan Tugas, Jilid VI, Jenderal (Purn.) A.H Nasution menuliskan: "Menurut pengakuan anggota PGT Suprapto dan Suwandi yang juga di rumah Pak Basar, melihat kedatangan dua tawanan yang diikat tangan dan kakinya disiksa dengan kejam, kepalanya dipukul dengan senjata hingga lukanya menganga. Menurut Suparmo, anggota Pemuda Rakyat (PR), kedua tawanan tersebut waktu datang masih sadar dan disuruh jalan sendiri, kemudian dimasukkan ke kamar piket. Pierre disiksa terakhir dan harus menyaksikan penyiksaan dan gugurnya para jenderal. Secara beramai-ramai anggota Cakra, PGT, dan PR menyiksa Pierre, karena dialah yang paling gigih hendak melawan.

Anggota Cakrabirawa Supandi, dalam pengakuannya mengatakan bahwa ia telah melihat Pierre disuruh jongkok dan empat kali ditembak dari belakang, kemudian diseret ke sumur. Badannya penuh berlumuran darah."
"Konon para penyiksa itu diberi suntikan dulu, sehingga mereka tidak mengenal rasa takut," Mitzi memberi penjelasan.


Yuhu, itu dia yang bisa saya share dalam tulisan kali ini. Lain kali jika ada hal-hal seru lainnya pasti saya share lagi di sini. Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat.

Salam hangat ;)

Related Posts:

5 comments:

  1. Menurut yg saya baca (ga tau bener ato ngga tp mudah2an bener) kata dr. Arif Budianto yg ikut otopsi jenazah 7 pahlawan, tidak seorang pun yg dimutilasi. Kalaupun bola matanya lepas, itu bukan dicungkil tapi terendam air. Ngeri ya mbak :(

    ReplyDelete
  2. sedih rasanya kalo baca tentang pembunuhannya :( pasti nangis apalagi kl nonton film g30s/pki

    ReplyDelete
  3. Setiap hari aku baca cerita Pierre Tendean diblog kakak, aku tunggu part III ya

    ReplyDelete
  4. Ditunggu part III nya kak, setiap membacanya aku mau nangis terus bawaannya...

    ReplyDelete
  5. Sama... sy juga nagis nitikin airmata karena sy jg dari keluarga tentara. Jd mewakili banget ceritanya ada persamaan Korps

    ReplyDelete