Entah tahun keberapa saya sudah tidak bisa melihatnya lagi, bahkan saya hampir lupa dengan garis-garis wajahnya. Terakhir dia datang, saya dikabari oleh orang tua saya bahwa dia datang berkunjung, Tapi karena saya sedang asik bermain dengan teman saya waktu itu saya berpikir bahwa lain waktu saya pasti berjumpa dengannya lagi, dan seakan obrolan seru saya dengan teman saya adalah hal yang tak akan terulang lagi. Sesampainya di rumah, ternyata dia sudah pergi. Kepergiannya yang menandakan bahwa saya tidak bisa bertemu dengannya lagi.
Saat terakhir saya bertemu, hal yang saya ingat adalah ketika beberapa hari setelah hari raya beberapa tahun lalu. Dia makan hanya dengan sambal goreng kentang menggunakan piring kecil biasa dan porsi yang sangat sedikit. Tidak lama memang dia singgah, dan saat berpamitannya pun saya lupa. Yang saya ingat adalah ketika saya menatap piring bekas wadahnya makan, lama sekali, seakan piring itu adalah benda terakhir yang bisa saya kenang dari dia. Dan ketika dia datang lagi, benar saja, dengan bodohnya saya mementingkan obrolan tak tentu arah saya dengan teman-teman saya :,(
Saat saya kecil, kami masih tinggal bersama. Sosoknya pendiam, tapi dia banyak cerita tentang hal-hal aneh yang tidak masuk akal (menurut saya). Dia rajin membuatkan saya dan adik saya mainan tradisional dari kaleng bekas, dari karton, hingga dari buah kelapa yang masih kecil. Saya sering diajak duduk di warung jamu langganannya. Tempat favorit saya ketika saya bersama dia adalah di pundaknya. Perawakannya tinggi jangkung, jadi ketika berada di pundaknya, maka seakan saya bisa melihat seluruh dunia di mata kecil saya. Dan jika sedang banyak uang, dia membelikan makanan, baju, hingga tas sekolah untuk saya dan adik saya. Bahkan kami sering diajak jalan ke tempat-tempat perbelanjaan dengan berjalan kaki, yang jika kini kami ingat ternyata kami telah berjalan cukup jauh saat itu - dengan berjalan kaki-.
Saya lupa sejak kapan dia meninggalkan rumah kami, yang saya sadar bahwa dia sudah tidak tinggal bersama kami lagi. Dia datang tidak menentu, tapi jika kami sudah terlalu rindu secara tiba-tiba dia datang. Begitu terus, mungkin itulah yang disebut dengan ikatan batin keluarga. Sampai akhirnnya saya kuliah di luar kota, dan saya tidak pernah bertemu dengannya (lagi).
Waktu itu semester awal saya di perguruan tinggi. Seorang kakak sepupu mengabarkan bahwa dia telah pergi, saya menerima berita itu setengah tidak percaya. Saya berpikir bahwa bisa saja dia masih ada dan dalam keadaan sakit, jadi saya masih bisa bertemu dengannya. Waktu itu saya langsung datang ke rumah sepupu saya yang kebetulan dia akan disemayamkan di sana. Keluarga saya di Jakarta juga mengabarkan bahwa dia akan di bawa ke rumah sepupu saya tersebut. Hari itu, saya akan bertemu dengannya, yang terakhir kali.
Sesampainya di rumah sepupu saya, dia belum datang. Tapi acara penyambutan sudah dipersiapkan se-detail mungkin. Nenek saya yang juga orang tuanya sibuk mempersiapkan anaknya pulang untuk bertemu terakhir kalinya. Sudah banyak keluarga dan juga para tetangga bahkan tetangga desa hadir untuk penghormatan terkahir kalinya. Ada yang sibuk mempersiapkan tempat sholat, merangkai bunga, sampai mempersiapkan nisannya.
Melihat namanya tertera di nisan membuat saya pilu, tapi saat itu saya mencoba untuk menguatkan diri saya bahwa semua pasti baik-baik saja. Saya duduk di antara para saudara dan tetamu sambil menunggu rombongan dari Jakarta yang mengantarkannya ke tempat terakhirnya. Banyak cerita simpang siur tentang keadaan terakhirnya, sampai saya mendengar hal yang sangat memilukan. Tanpa sadar saya berteriak, menjerit, dan menangis mendengarnya. Kabar tersebut membuat saya sungguh tak berdaya.
Dia ditemukan dalam keadaan sudah 'pergi' tiga hari sebelumnya, dia diantar oleh mobil jenazah dari RS. Cipto Mangukusumo. Dia pergi dengan cara yang sangat saya benci, dan saya benci dengan pelaku yang menyudahi waktunya untuk bisa bertemu dengan saya di sisa waktu kami. Saat ia sampai, saya sudah tidak bisa melihatnya lagi. Niat nenek untuk memandikannya pun pupus. Tubuhnya sudah tersimpan rapi di dalam peti jenazah. Bahkan dibuka pun tidak boleh. Saya kembali menangis sejadinya, berteriak seakan tidak sadar, bayangan-bayangan saat saya bersamanya berputar-putar di kepala saya. Saya hanya bisa pasrah, menatap petinya bergantian di-shalat-kan.
Saya mengantarkannya sampai tempat dia dimakamkan. Diiringi sanak saudara yang hadir saat itu. Saya hanya bisa menatapnya dari kejauhan karena saya wanita. Laki-laki yang mengambil peran dalam prosesi tersebut. Setelah selesai dimakamkan, saya baru berani mendekatkan diri pada pusaranya. Saya hanya ditemani kakak sepupu saya. Tak ingin rasanya meninggalkannya sendirian di dalam sana. Tapi keadaan kami sudah berbeda, alam kami juga berbeda.
Sungguh saya tidak memiliki apapun yang bisa saya ingat dari wajahnya. Saya tidak memiliki fotonya, bahkan prakarya yang pernah ia buatkan untuk saya dan adik saya pun sudah hilang entah kemana. Tas dan baju yang pernah dibelikannya pun mungkin sudah kami berikan untuk orang lain lagi. Yang bisa saya ingat dari dia adalah lagu yang sering ia nyanyikan, makanan yang pernah ia buat, serta kegemarannya saat ia masih tinggal bersama kami.
Dan ketika saya merindukannya, saya hanya bisa menikmati lagi perjalanan saat saya berada di pundaknya. Dan doa saya semoga ia di sana bahagia, bisa melihat saya yang selalu merindukannya, dan tau bahwa saya akan selalu menganggapnya ada, mendoakannya agar suatu saat nanti kami dapat berkumpul di kehidupan yang lain. Karena yang bisa saya lakukan saat ini adalah mendoakannya serta mengumpulkan jutaan rindu untuknya.
Tulisan ini didedikasikan untuk pakde saya, korban pembunuhan oleh anak jalanan.
0 comments:
Post a Comment