Friday, 17 October 2014

Aku Bukan Jamilah oleh R. Juki Ardi

0

"Aku Jemilah ... sampai nanti pun aku tetap Jemilah"

Itulah tulisan yang ada pada cover depan buku yang ditulis oleh R. Juki Ardi. Tidak terlalu tebal, hanya sekitar 130 halaman saja. Berisi tentang pengalaman Jemilah, seorang gadis kampung kelas 2 SMP dari pedalaman Pacitan, Jawa Timur. Dia dituduh serta dipaksa untuk menandatangani proses-verbal sebagai Atika Jamilah.

Pengantar buku ini ditulis oleh Koesalah Soebagyo Toer, sahabat sang penulis. Dan penulisnya sendiri adalah suami ke dua dari Jemilah.

Jemilah bercerita, ia masih sangat muda saat dipaksa menikah oleh orang tuanya. Dia dikawinkan dengan Haryanto dan diboyong ke Jakarta. Beberapa bulan tinggal di Jakarta meletuslah apa yang dinamakan Peristiwa Gerakan Tiga Puluh September (G30S) pada 1 Oktober 1965. Peristiwa dimulai dengan penculikan beberapa orang jenderal yang kemudian dibunuh dan mayatnya dibuang di sebuah sumur mati di Lubang Buaya.

Peristiwa berkembang cepat. Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dengan segera menyimpulkan dan menuduh bahwa di balik peristiwa ini adalah Partai Komunis Indonesia (PKI). Haryanto yang ternyata tokoh Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) yang berafiliasi pada PKI mulai merasa terancam keadaannya.

Dalam keadaan terpaksa ia meminta Jemilah untuk segera pulang kampung. Tapi belum sampai di terminal bus, Jemilah tertangkap oleh segerombolan militer yang mencari anggota Pemuda Rakyat (PR) yang bernama Atika Jamilah. Menurut militer, Atika Jamilah adalah peserta latihan di Lubang Buaya yang ikut mencungkil mata para jenderal sebelum akhirnya dibunuh.

"Kalau begitu adanya, ternyata suamiku pilihan mereka seorang pembunuh. Yang dibunuh tak tanggung-tanggung, tujuh jenderal. Bukankah jenderal itu orang-orang yang tinggi pangkatnya dan dijaga ketat oleh anak buahnya? Apa perlunya Mas Har membunuh mereka? 'Turun! Turun! Semua turun! Baris di sana! Ayo cepat!'

"Serdadu mencegat oplet yang kami tumpangi, kami disuruh turun dan ditarik oleh seseorang berpakaian serba loreng.
"'Turun! Turun! Mana yang namanya Jamilah?'
"'Kamu siapa?'
"'Saya supir oplet, Pak.'
"'Kamu Pekai, ya? Pe-er, apa Lekra?'
"'Bukan, Pak, saya bukan mereka. Saya rakyat biasa, Pak'
"'Rakyat! Rakyat apa kamu, he?"
"Prak, prak, bug! Bug! Brak! Brak! Tanpa alasan jelas sopir oplet telah menjadi bola hidup. Sebentar saja wajahnya sudah tidak nampak aslinya. Mukanya hancur dihantam popor senapan. Setiap serdadu menghantamnya.
"'Tidak ada rakyat, yang ada Pekai!'
"'Saya bukan Pekai, Pak, benar.'
"'Benar! Kamu bohong! Siapa yang kamu bawa?'
"'Mereka itu penumpang saya, Pak.'
"'Brak! Prak! Dug! Brak! Mereka kesetanan lagi menghajar supir nahas itu sampai pingsan dan tubuhnya dibiarkan tergolek di tepi jalanan berdebu.

"'Siapa yang namanya Atika Jamilah? Hayo ngaku!'
"'Angkat tangan, siapa Jamilah!'
"Aku diam, nama yang dicari mirip dengan namaku. Tetapi aku Jemilah, bukan Atika.
"Seseorang yang mengenakan pakaian hijau dengan tanda kuning ditekuk di lengannya berteriak kencang seraya mengeluarkan senapan pendeknya. Aku merasa takut, tetapi hendak mengaku juga lebih takut. Maka ketika seorang dari mereka mendekatiku aku berkata, 'Saya Jemilah, bukan Atika Jamilah, Pak. Saya dari Pacitan.'
"'Lonte Gerwani!'
"'Dasar pemberontak! Beraninya kamu mempermainkan kami. Ditanya dari tadi diam saja.'

"Tidak sempat aku menerangkan dan bertanya, badanku sudah dihujani dengan popor senapan dan bertubi-tubi ditendang pakai sepatu berlaras besi.
"Kulihat tentara baru datang, mereka agak sopan dan tidak memukuliku.
"'Kamu siapa?'
"'Saya Jemilah, Pak,' jawabku sambil membenahi pakaianku yang tersingkap.
"'Bukan Atika Jamilah? Kamu ikut ke Lubang Buaya?'
"'Saya Jemilah dari Pacitan, Pak.'
"'Coba lihat tangannya itu.'
"Seorang tentara berbaret merah muda mendekatiku dan meminta kedua tanganku untuk ia lihat. Setelah mengamati dengan teliti ia menyuruh menggosokkan kedua telapak tanganku keras-keras. Lalu ia mencium hasil gosokan tanganku.
"'Bagaimana?'
"'Nihil, Pak.'
"Aku tidak tahu mereka berbicara apa, tetapi dari mulut sang komandan aku sedikit mendengar ujung kalimatnya, 'Aku juga tidak yakin dia anaknya'

"Mereka menyuruh kami semua naik ke jip. Komandan memerintahkan ke KOTI. Aku tak tahu arti kata itu. Yang aku tahu, jip membawa kami masuk ke sebuah halaman besar dan di depannya dipenuhi gedung-gedung besar.
"Kami digiring masuk ke sebuah ruangan besar tempat tentara berbaju hijau sedang membicarakan sesuatu.
"'He, Gerwani, kemari kamu keluar dari rombongan.'
"Aku bingung kenapa aku dipanggil Gerwani. Apa itu Gerwani? Padahal dari tadi aku menyebut namaku Jemilah. Lalu aku dibawa ke ruang yang lebih kecil. Aku didorong sehingga aku hampir terjerambab. Mereka menyabet punggungku, dan kemudian aku merasakan ada yang meleleh di punggung.
"'Kamu yang menari-nari sambil menyiksa jenderal-jenderal di Lubang Buaya, kan?'
"'Saya tidak pernah di sana, Pak. Saya selalu di rumah.'
"'Kamu kan menyaksikan semua kejadian di sana. Jangan mengelak!'
"'Saya sudah jujur, Pak. Saya tidak mengerti semua yang Bapak tanyakan.'

"'Lalu tubuhku menjadi bulan-bulanan serdadu, badanku diseret, ditendang, dipukul, dan dijambak. Mereka sibuk menyiksaku, dianggapnya tubuh ini karung pasir yang tak bernyawa.
"Komandan memberi tanda bahwa siksaan dihentikan.
"'Bawa ia ke sel wanita.'
"Di dalam sel sudah bejubel penghuni. Semua wanita. Rata-rata berusia lebih tua daripadaku. Kepalaku seolah berputar, berkunang-kunang, lalu semua gelap. Aku tak ingat apa-apa lagi.
"Begitu mataku terbuka, pakaianku sudah disalini, aku tidak tahu oleh siapa. Badanku sudah tidak bau darah lagi seperti semalam. Seorang ibu duduk di sisi kepalaku. Menyisir rambutku dan diikat dengan karet bekas talui bungkus nasi catu.
"Aku sudah menggunakan daster yang ternyata milik Bu Trimo, memang kebesaran, tapi supaya terkesan lebih tua kata mereka. Mereka merawat aku sampai benar-benar sembuh dari lukaku. Dan ternyata beberapa tulangku sudah patah.

"Hari ke tujuh setelah aku di dalam sel, aku dipanggil untuk diperiksa. Seorang pengawal membuka pintu. 'Kamu Jamilah, ya?'
"'Jemilah," kataku membenarkan kesalahannya.
"'Ya, siap-siap mau diperiksa oleh Mayor Nafi.'
"Dihadapanku telah berdiri dua serdadu dengan pangkat merah ditekuk satu. Mereka mengawasiku dengan mata jalang. Sebelum mereka mendekatiku, masuk Mayor Nafi dengan dua anak muda. Seorang dari mereka membawa tustel besar.
"'Ini yang aku bilang Atika Jamilah. Srikandi Lubang Buaya.'
"Mulutku terkunci tidak berani membetulkan kesalahan ucapan sang Mayor.
Dua pemuda mengawasiku. Seorang menyetel tustelnya, seorang lagi menanyaiku.
"'Saya bukan Jamilah, saya Jemilah.'
"Pemuda tersebut bengong lalu ia menoleh ke arah Mayor Nafi.
"'Jangan di dengar, mereka memang suka mengelak. Itu termasuk keahlian Pekai.'
"'Tapi saya memang bukan Jamilah, Pak...'
"Belum habis menerangkan, sepatu Mayor Nafi sudah ada di mulutku, darah mengucur. Kukira gigiku ada yang tanggal, paling tidak bibirku sobek.
"'Pral! Mayor memanggil bawahannya. Yang dipanggil bergegas.
"'Urus ini."
"'Siap, Pak."
"Ia mendekatkan mukanya ke wajahku hingga hampir nempel. Lalu ia mengambil sesuatu dari bawah lemari.
"'Pegang ini, jangan menolak kalau kamu ingin tetap selamat dan hidup.'
"Aku tidak segera menerima apa yang ia berikan. Benda itu mirip arit, tapi agak kecil sedang yang tajam hanya sebagian. Aku amati sejenak. Belum pernah kulihat alat semacam ini sebelumnya.
"'Pegang ini! Ini kan alat yang kamu gunakan untuk mencongkel mata bapak-bapakku di Lubang Buaya?!'
"'Saya tidak melakukan hal itu, Pak.'
"'Diam!' Aku dibentak sambil tangannya meraih rambutku. Ia pelintir rambutku hingga kepalaku serasa hampir copot. Aku diseret sampai tempat Mayor dan dua pemuda tadi menunggu. Aku digiring, dibawa ke bawah pohon rambutan yang rindang, di halaman belakang kantor.
"'Berdiri di sana, Mbak, di bawah pohon itu.' Pemuda yang memegang tustel mengatur di mana seharusnya aku berdiri. 'Alat itu diangkat lebih tinggi lagi, ya, tinggi lagi. Ya, baik.' Lalu kilat lampu terang dari tustel menerkam mataku hingga jadi silau.


Seperti yang ia tulis di buku hariannya: Di negeri ini ada sebuah orde yang berdiri di atas genangan darah dan air mata rakyatnya. Pilar-pilar kekuasaannnya disangga oleh pembantaian yang dibiayai dari pajak rakyat yang dibantai.
Di sebuah koran terbitan lama, ada gambar seorang gadis dengan daster kebesaran. Di tangannya ada sebuah alat sadap karet yang bentuknya seperti celurit kecil. Di bawah gambar tertera tulisan: ATIKA JAMILAH, SI PENYONGKEL MATA PARA JENDERAL.


Aku Bukan Jamilah
Oleh R.Juki Ardi
PT. Alex Media Komputindo
Kelompok Gramedia, Anggota IKAPI, Jakarta.


Semoga bermanfaat.
Salam hangat :)

Related Posts:

0 comments:

Post a Comment